Perkataan Anda Sangat Berarti

Minggu, 10 Januari 2021

Bacaan : Kolose 3 : 15-17

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. (Kejadian 1:1-3)

Jika kita kembali ke kitab Kejadian, ketika segala sesuatu dijadikan, kita melihat bahwa Allah memulai semuanya dengan firman/perkataanNya. Ia berfirman, dan segalanya jadi. Terang. Daratan. Binatang melata. Semuanya dengan firman. Dan kita semua dijadikan menurut gambarNya.

Allah telah cukup berani untuk menciptakan Anda, cukup berani untuk menciptakan saya, cukup berani untuk menciptakan umat manusia yang pada akhirnya mengecewakan hatiNya.

Amsal 18:21 berkata bahwa hidup dan mati dikuasai lidah (ini sudah kita bahas pada hari ke-12, klik di sini). Saya telah menyaksikannya terjadi dalam hidup saya. Saya menyaksikannya dalam kehidupan persahabatan saya. Saya menyaksikannya dalam kenangan masa lalu yang berbicara kepada saya.

Jikalau ada benih keberanian yang hidup dalam diri kita, menanti waktunya untuk berkembang, perkataan adalah serupa sinar matahari yang menyinari dan air yang akan menyirami benih itu sehingga ia akan berkembang sepenuhnya.

Beberapa tahun yang lalu di suatu musim semi, saya memaksa sekitar 10 orang teman wanita saya untuk mendaftar satu bulan keanggotaan di sebuah boot camp. Kami harus menjadi fit sebelum musim panas, kalau kami masih bisa bertahan.

(Sebagai catatan—boot camp ini membuat saya hampir setengah mati).

Ini bukan boot camp biasa. Kegiatan dimulai jam 5 pagi dan tempatnya berada sekitar 20 menit dari tempat tinggal kami. Jadi setiap kami harus bangun sekitar jam 4 pagi dan mulai berolah raga bahkan sebelum matahari terbit.

Jikalau ada benih keberanian yang hidup dalam diri kita, menanti waktunya untuk berkembang, perkataan adalah serupa sinar matahari yang menyinari dan air yang akan menyirami benih itu sehingga ia akan berkembang sepenuhnya.

Setelah sebulan berlalu, pelatih menyadari beberapa hal tentang saya: (1) saya tidak menikmati berada di sana, dan (2) saya hampir selalu menjadi pelawak di kelas.

Karena itu, ia menempatkan saya di depan barisan atau memanggil saya untuk memimpin pemanasan atau matanya selalu mengawasi saya. Saya benci itu. Meskipun saya senang menjadi pusat perhatian, tetapi saya tidak menyukainya kalau saya sedang berolah raga. Biarkan saya sendiri melakukan 40x squat saya, Bu.

Pada satu hari di akhir boot camp tersebut, kami harus menyelesaikan suatu kelas tantangan. Seperti hari-hari sebelumnya, saya adalah orang yang selesai paling akhir. Kelas terakhir adalah lari sprint melewati beberapa kerucut lalu lintas sambil membawa bola pemberat. Saya mulai berlari, dan pelatih berlari di samping saya, benar-benar berteriak di telinga saya.

“Kamu bisa Annie! Jangan menyerah sekarang. Kamu hampir sampai! Kamu tidak sampai sejauh ini beberapa hari yang lalu! Ayo selesaikan dengan hebat!”

Meskipun saya tidak senang mengakuinya, tapi cara itu berhasil. Kata-katanya di telinga saya memberi saya dorongan yang saya butuhkan untuk menyelesaikan kelas itu, kembali ke mobil saya, dan tidak akan pernah kembali ke boot camp itu lagi.

(Hehe, saya bercanda. Saya kembali lagi dua hari yang lalu.)

Intinya Adalah, perkataan itu penting. Tuhan ingin Anda menggunakan perkataan Anda untuk memberi dorongan dan berbicara kehidupan. Mintalah kasih karunia Tuhan untuk melakukannya, dan carilah kesempatan untuk menjadi berani, bicara kebenaran dan kasih dalam dunia yang penuh luka ini.

JADILAH BERANI: Siapakah yang bisa Anda beri dorongan hari ini? Siapakah yang perlu tahu bahwa Anda menyemangati mereka? Lakukanlah itu!

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top