Senin, 20 Juli 2020
Bacaan : Kolose 3 : 1-17
… sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. (1 Petrus 1:22)
Pada 1876 ketika Alexander Graham Bell mengucapkan kata-kata pertama melalui penemuan awal alat yang disebut telepon, tak seorang pun bisa membayangkan bagaimana dunia akan segera menyusut ketika saluran komunikasi terbentang untuk menghubungkan kita semua. Sekarang kita memiliki satelit, telekonferensi, wireless, HP, dan alat komunikasi yang dapat digunakan tanpa dipegang. Meskipun tampaknya Anda bisa menjangkau setiap orang, di manapun, kapan pun, seberapa seringkah hubungan yang sesungguhnya terjalin? Para ahli mengatakan bahwa 80% dari semua komunikasi bersifat non-verbal: ekspresi wajah, gerakan tangan, bahasa tubuh. Jadi ketika kita bercakap-cakap dengan seseorang melalui telepon, kita hanya menggunakan sekitar 20% dari apa yang kita sampaikan.
Jika Anda pernah belajar bahasa asing, Anda tahu seberapa banyak makna yang dimaksud bisa berubah atau bahkan terhilang dalam proses terjemahan. Bahkan pada saat kita menggunakan bahasa yang sama, hal itu juga bisa terjadi. Itulah sebabnya Anda perlu menyampaikan kata-kata dalam konteksnya. Satu-satunya cara agar orang bisa sungguh-sungguh tahu maksud kita adalah jika kita membayar harga dengan menyingkapkan isi hati kita.
Satu cara penting untuk membuka hati kita kepada orang-orang di sekitar kita adalah dengan memberi waktu kita. Kita juga harus belajar mendengarkan sebelum kita membuka mulut untuk menyatakan pesan kita. Mendengarkan juga berarti bahwa Anda bertatap muka dengan mereka dan berusaha menemukan apa yang sungguh-sungguh mereka cintai, apa minat mereka, apa mimpi mereka.
Ketika saya mengamati sejumlah orang yang menghadapi akhir hidupnya, saya melihat betapa termotivasi mereka, akhirnya, untuk menceritakan kebenaran. Jika kita ingat bahwa hari-hari kita sudah dihitung, kita menyadari bahwa kita tidak akan membuang-buang waktu untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar. Dalam hubungan, taruhannya terlalu tinggi untuk berbicara bertele-tele tanpa menyinggung pokok persoalan, menggosipkan seseorang, atau berbicara tidak jujur. Hubungan yang baik maupun organisasi yang besar dibangun berdasarkan kepercayaan. Makin banyak Anda mengatakan kebenaran, makin banyak Anda mengembangkan suasana di mana setiap orang bisa bersikap jujur.
Teknologi telepon seluler sungguh menakjubkan. Dengan alat kecil ini kita bisa berhubungan dengan satelit besar di ruang angkasa yang kemudian menghubungkan Anda dengan keluarga atau orang yang Anda kasihi yang mungkin terpisah jarak ribuan kilometer. Ada saat di mana kita tampaknya terpisah begitu jauh dari orang-orang yang kita kasihi dan kita menderita karena jarak emosional. Pada saat itulah Allah ingin menjembatani jurang pemisah tersebut. Dia ingin Anda memanggilNya sehingga Dia bisa menolong menghubungkan Anda dengan orang-orang dalam hidup Anda. Dia akan membuka hati mereka.
Kita bisa berkomunikasi dengan orang-orang dalam hidup kita jauh lebih baik ketika kita berhubungan dekat dengan Bapa di surga terlebih dulu. Makin dekat kita bertumbuh pada Allah dan berhubungan denganNya, Sang Satelit, makin jelas Dia mengeluarkan sinyal kepada orang-orang yang kita ajak berkomunikasi.
PENERAPAN:
1. Lihatlah daftar panggilan cepat dalam HP Anda. Dari orang-orang yang ada dalam daftar, siapa yang Anda pandang paling penting? Seberapa sering Anda berkomunikasi dengan mereka dibanding yang lain? Seberapa sering Anda sungguh-sungguh berkomunikasi dengan mereka?
2. Tulislah surat/email, kirimlah chat atau teleponlah seseorang yang penting bagi Anda, tetapi tinggal jauh. Ingatlah kali terakhir Anda bersama-sama, dan beri tahu orang itu apa artinya hal itu bagi Anda.
From “One Month to Live” by Kerry and Chris Shook

