Kekuatan Bintang

Selasa, 21 Juli 2020

Bacaan :  Mazmur 8

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10)

Saya senang memandang bintang, melihat ke langit pada malam hari yang cerah dan melihat ribuan permata yang berkilauan menembus kegelapan. Pada saat itu saya diingatkan betapa kecilnya saya dan betapa agungnya Allah, serta saya terheran-heran mengapa saya berarti bagiNya, mengapa saya tidak terhilang di lautan penduduk dunia yang jumlahnya 7 milyar, sama seperti Polaris, Bintang Utara, bergabung menjadi cahaya gemerlapan Bima Sakti.

Dalam salah satu puisinya Raja Daud mengungkapkan keheranannya mengapa Allah menciptakan dia. Pada dasarnya Daud berkata, “Ya Allah, ketika aku melihat seluruh ciptaanMu, aku merasa hanya seperti setitik debu. Siapa aku dan di mana tempatku, posisiku dalam rancangan kehidupan yang besar ini? Engkau telah menciptakan aku untuk menjadi apa?”

Kita diciptakan menurut gambar Allah, jadi cukup masuk akal jika kita mempelajari karakterNya untuk memahami karakter kita. Jika Anda mempelajari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini—betapa luasnya jagat raya sekaligus tidak ada detil sekecil apapun yang terlewatkan di dalamnya—semua membuktikan bahwa tak ada satupun di semesta ini yang terjadi secara kebetulan; semua adalah buah karya Sang Pencipta yang diciptakan dengan suatu tujuan.

Kita diciptakan untuk menggenapi rencanaNya (Ef 2:10). Untuk memiliki kesadaran seperti ini dan hidup berdasarkan kesadaran tersebut, Anda harus memfokuskan diri pada kekuatan atau kelebihan Anda. Allah tidak pernah merancang kita menjadi serba bisa. Dia telah memberi talenta unik kepada masing-masing kita, dan tak seorang pun punya semua talenta, tidak peduli bagaimanapun penampilannya. Merupakan penghinaan kepada Allah jika kita berfokus pada karunia dan antusiasme yang tidak kita miliki dan hanya berusaha mengembangkan bidang-bidang yang menjadi kelemahan kita. Potensi terbesar kita terletak pada bidang kekuatan terbesar kita.

Bagaimana kita tahu siapa kita dalam hidup ini? Dalam tahap mana pun—murid, dewasa muda, lajang, menikah, orangtua baru, lansia—kita semua bisa belajar lebih banyak tentang tujuan Allah menciptakan kita dengan berfokus padaNya. Ketika kita mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan Allah, kita menjadi semakin serupa denganNya, dan menggagalkan usaha musuh untuk mencuri identitas kita. Ketika kita memandang Pencipta kita sebagai sumber identitas kita, kita bisa bercahaya lebih terang dari bintang mana pun di langit malam.

PENERAPAN:

1. Malam ini (atau malam lain yang cerah), pergilah keluar dan sediakan waktu lebih banyak untuk sendirian menatap bintang. Ke mana pikiran Anda melayang? Ke mana hati Anda pergi? Setelah masuk kembali ke rumah, bacalah Mazmur 8. Lalu tulislah puisi Anda sendiri kepada Allah, yang mengungkapkan pengalaman Anda dan mencakup pertanyaan dan kerinduan Anda sendiri.

2. Buatlah daftar kekuatan Anda—segala sesuatu yang bisa Anda pikirkan. Buatlah sedetil dan sekonkret mungkin. Bukan sekedar mengatakan bahwa Anda kreatif, perincilah bahwa Anda adalah pelukis cat air berbakat. Sekarang lihatlah daftar Anda, dan di samping masing-masing poin, tulis seberapa banyak waktu yang Anda sediakan untuk menggunakan atau meningkatkan bakat tersebut minggu ini.

From “One Month to Live” by Kerry and Chris Shook

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top