Minggu, 19 Juli 2020
Bacaan : Lukas 17 : 11-19
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)
Kebanyakan orang yang tahu hari-hari mereka sudah dihitung memahami pentingnya sensasi-sensasi kecil yang dirasakan indera, yang seringkali kita anggap sebagai hal yang biasa saja. Mereka tahu apa artinya bangun setiap hari dengan hati bersyukur. Mereka sangat bersyukur untuk satu hari lagi, untuk kesempatan lain untuk menjalani setiap detil hidup mereka dengan antusias.
Kita berbicara banyak tentang ucapan syukur dalam budaya kita, tetapi mengalami kesulitan untuk mempraktekkannya. Pengalaman Yesus seperti dicatat dalam Lukas 17 merupakan contoh tentang orang yang diberi kesempatan kedua dalam kehidupan ini pun lupa untuk bersyukur atas sumber segala hal yang baik.
Kusta merupakan penyakit yang paling menakutkan pada jaman Yesus. Pada masa itu, tanda pertama kusta adalah hukuman mati. Sekali teridentifikasi mengidap penyakit ini, penderita kusta dipaksa meninggalkan rumah, keluarga, dan teman-teman. Ia dikucilkan di luar kota. Hukum yang ketat bahkan menyatakan bahwa orang kusta tidak boleh berada dalam jarak 45 m dari orang yang tidak terkena penyakit itu. Jika mereka melanggarnya, mereka akan dilempari batu sampai mati.
Merupakan peristiwa yang sangat langka bagi seorang yang menderita kusta untuk sembuh. Dan ketika ke-10 orang itu disembuhkan, tentu saja mereka merayakannya dengan melompat-lompat, berteriak-teriak, dan melakukan apapun untuk menunjukkan kegembiraan mereka. Namun bagian paling penting dari seluruh cerita ini adalah ketika hanya 1 orang yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus (ay 15-18). Orang itu berasal dari negeri lain, tetapi ia satu-satunya yang kembali untuk mengucap syukur kepada Yesus. Orang ini akhirnya memiliki apa Anda dan saya anggap sebagai hal yang biasa saja setiap hari. Ia mendapat hidup yang baru. Ia memperoleh kesehatan. Ia akan hidup untuk melihat hari besok. Namun ia menyadari ini adalah pemberian berharga yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia kembali untuk mengucap syukur kepada Yesus.
Ucapan syukur memiliki kuasa untuk mengubah kita secara total. Orang yang sebelumnya sakit kusta ini bukan hanya disembuhkan secara fisik; ia juga disembuhkan secara rohani. Ada kuasa dalam pengucapan syukur untuk menyembuhkan kita secara rohani, emosi, dan relasi. Sikap mengucap syukur membuka hati kita kepada Allah, dan memampukan kita untuk sungguh-sungguh melihat dunia sebagaimana adanya, untuk mengalami kehidupan sepenuhnya dan menikmati setiap tarikan nafas. Itulah kuasa pengucapan syukur.
Jika Anda hanya memiliki waktu 1 bulan untuk menjalani hidup, Anda tentu ingin mendapatkan yang terbaik darinya. Tertawa dan terlibat sepenuhnya dengan orang-orang yang Anda kasihi. Menghargai hal-hal kecil yang mungkin tampak sepele bagi orang lain, tetapi hal itu menyenangkan jiwa Anda, dan mengucap syukur kepada Allah yang mengijinkan Anda untuk mengalami hal itu. Jika kita berterima kasih kepada orang-orang di sekitar kita, hal itu akan meningkatkan cinta di antara kita. Jika kita mengungkapkan syukur kepada Allah, hal itu meningkatkan kapasitas kita untuk mengalami hidup sepenuhnya tanpa penyesalan.
PENERAPAN:
1. Buatlah daftar ucapan syukur berisi 5 atau 6 hal kecil yang seringkali Anda anggap sebagai hal yang sepele. Bersyukurlah kepada Allah untuk hal-hal kecil yang membuat kehidupan menjadi indah.
2. Lihatlah kembali daftar Anda dan pilihlah 1 untuk dialami hari ini. Itu mungkin merasakan makanan favorit Anda. Atau mungkin mendengarkan lagu favorit Anda yang sudah lama tidak pernah didengarkan. Apapun yang Anda pilih, cobalah menikmatinya.
From “One Month to Live” by Kerry and Chris Shook

