Jumat, 9 Oktober 2020
Bacaan : Amsal 2 : 1-11
Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian. (Amsal 2:6)
Banyak orang merasa jauh dari kreativitas karena mereka membatasi bahwa kreativitas hanya ada dalam dunia seni dan musik. Mereka tidak menyadari bahwa setiap orang memiliki satu takaran kreativitas tertentu, yang harus dinyatakan secara konsisten sepanjang hidupnya.
Setiap anak usia 5 tahun adalah seorang seniman. Kecenderungan ekspresi mereka adalah berkreasi. Namun, sesuatu terjadi ketika mereka masuk sekolah. Banyak sistem pendidikan mempersempit definisi kreativitas sehingga hanya mencakup orang-orang yang bisa menggambar atau mewarnai. Ketika anak-anak berusia 10 tahun sangat sedikit yang masih dianggap sebagai seniman karena definisi yang sempit ini. Guru-guru yang berorientasi pada Kerajaan Allah saat ini harus memegang nilai hikmat yang sejati, dan mengembangkan keterampilan kreatif anak-anak di luar batasan tradisional yang disebut “seni”. Hikmat ilahi yang dinyatakan melalui kreativitaslah yang membawa individu-individu ke lini depan dalam bidang-bidang tempat mereka memberikan pengaruh.
Ada orang lain yang merasa tidak memenuhi syarat karena mereka berpikir bahwa kreativitas selalu berarti kita harus menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau melakukan sesuatu yang baru. Dalam kenyataan, kebanyakan ide besar sesungguhnya merupakan hasil pengembangan dari konsep lain.
Hikmat bisa mengambil sesuatu yang ada dalam benda atau konsep sehari-hari dan membangun sesuatu yang baru dan lebih baik di atasnya. Itulah yang dilakukan oleh Salomo. Semua raja pada jamannya memiliki juru minuman, hamba, meja perjamuan dan pakaian yang bagus untuk hamba-hamba mereka. Tetapi ada sesuatu dalam cara penggunaan hikmatnya untuk menangani masalah sehari-hari yang membuatnya jauh lebih menonjol dari pada yang lain. Ratu Syeba begitu takjub, sampai tak bisa berkata-kata ketika melihat hikmat Salomo. Sekarang waktunya bagi Gereja untuk menunjukkan hikmat yang menyebabkan dunia tak bisa berkata-kata sekali lagi.
Ada kesalahan konsep yang sering kali muncul di tengah masyarakat seni; bahwa kreativitas harus muncul dari penderitaan. Tidak diragukan bahwa karya seni terbesar berasal dari orang-orang yang penuh masalah dalam hidup mereka atau mengalami beberapa tragedi terburuk. Kenyataannya seperti ini—sering kali dibutuhkan trauma untuk membuat seseorang menemukan prioritas utama dalam hidupnya. Orang percaya tidak perlu mengalami hal itu. Penyaliban manusia lama kita bersama Kristus merupakan satu-satunya tragedi yang dibutuhkan untuk membawa kita pada peranan yang tepat untuk memberikan pengaruh secara kreatif.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

