Selasa, 28 Juli 2020
Bacaan : Lukas 12 : 13-21
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, (Efesus 5:15)
Saya senang melihat anak-anak saya membuat istana pasir ketika kami pergi ke pantai. Mereka bisa duduk berjam-jam, menggali, menghaluskan, menyodok, dan menepuk-nepuk, berusaha untuk membuat menara yang lebih baik serta membuat parit lebar yang rapi. Namun ketika gelombang laut mulai naik tinggi, akhirnya akan menyapu istana pasir itu. Istana mereka tidak permanen dan tidak dapat bertahan lama.
Sayangnya, begitu banyak orang pada akhir hidupnya merasakan hal yang sama. Mereka bekerja tanpa henti, selalu sibuk dengan jadwal yang padat dan penuh. Kenyataan parah yang seringkali dihadapi adalah bahwa sebagian besar dari yang mereka perjuangkan itu tidak dapat bertahan lama. Setelah mereka mati, hal itu akan terhapus seperti istana pasir saat gelombang tinggi. Berapa banyak dari antara kita yang menggunakan aset kita untuk membangun fondasi yang permanen di bawah istana pasir kita? Jika kita ingin meninggalkan warisan yang tidak tersapu gelombang waktu, kita perlu melakukan inspeksi di lokasi kehidupan yang kita bangun.
Aspek pertama adalah evaluasi pengaruh. Kita semua telah diberi sejumlah kesempatan yang terbatas untuk mempengaruhi orang lain dan membuat perbedaan dalam hidup mereka. Hidup dan waktu kita bukan milik kita sendiri. Semua adalah milik Kristus dan hanya namaNya yang kekal. Hanya jika kita hidup untuk mempengaruhi orang lain bagi Dia, kita akan meninggalkan warisan yang kekal. Anda dan saya suatu hari nanti akan dilupakan. Hanya hal-hal yang kita lakukan untuk Allah, cara kita menggenapi rencanaNya di hidup kita, yang akan tinggal tetap.
Kita bukan hanya harus melewati ujian pengaruh untuk meninggalkan warisan yang kekal, melainkan juga harus melewati pemeriksaan kekayaan. Ini tidak tergantung pada jumlah uang yang Anda miliki melainkan pada sikap Anda dalam menggunakannya. Tidak ada salahnya memiliki aset dan kekayaan selama kita menyadari bahwa semua benda materi yang kita miliki hanyalah istana pasir. Kita harus menikmati kepemilikan materi yang diberikan Allah kepada kita, tetapi jangan terlalu melekat pada materi atau kita akan hancur ketika gelombang waktu menyapunya.
Satu-satunya jalan untuk melewati ujian kekayaan adalah dengan memberi. Kita harus belajar menjadi pemberi daripada penerima sehingga kita bisa membuat perbedaan. Allah menghendaki kita menjadi saluran berkatNya, dan jika Dia mendapati bahwa kita bisa dipercayai dan bahwa kita mentaati Dia dalam hal ini, Dia tahu Dia bisa terus memberkati kita. Hanya ketika kita dengan penuh syukur menggunakan sesuatu yang Dia berikan kepada kita untuk memberkati orang-orang di sekitar kita, kita bisa membangun gudang perbendaharaan yang kekal.
Akhirnya adalah ujian ketaatan. Efesus 5:15-17 merupakan rahasia terbesar untuk meninggalkan warisan yang berarti: usahakan mengerti kehendak Tuhan untuk Anda kerjakan dan lakukanlah. Taatilah Allah, karena Dia memberi Anda cukup waktu untuk melakukan segala sesuatu yang perlu Anda kerjakan, baik dalam hari-hari maupun hidup Anda. Untuk menemukan kehendak Allah supaya Anda kerjakan, Anda perlu menyediakan waktu bersamaNya dan mendengarkan Dia, dan kemudian menaati. Jika Anda menggunakan pengaruh dan kekayaan Anda untuk menaati Allah, Dia akan memampukan Anda untuk meninggalkan warisan yang kekal.
PENERAPAN:
1. Daftar 3 evaluasi—pengaruh, kekayaan, dan ketaatan—dan berikan penilaian kepada diri Anda sendiri untuk masing-masing hal itu. Dalam bidang apa Anda bergumul paling keras? Dalam bidang apa Anda bekerja dengan baik? Bagaimana kondisi hidup Anda jika Anda mencapai A+ untuk masing-masing ujian itu?
2. Tulis biografi singkat Anda. Mulailah dengan hidup Anda sejauh ini dan lanjutkan sampai masa yang akan datang. Apa yang Anda kehendaki untuk dikenang orang lain ketika Anda meninggal? Warisan apakah yang ingin Anda tinggalkan dalam hubungan Anda?
From “One Month to Live” by Kerry and Chris Shook

