Rabu, 29 Juli 2020
Bacaan : Matius 13 : 1-23
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. (Yohanes 12:24)
Setiap hari, setiap saat, dengan setiap tindakan, Anda menanam sesuatu. Pertanyaannya adalah, apa yang sesungguhnya Anda tanam? Apakah dampak kumulatif dari perkataan, tindakan dan maksud Anda bagi orang-orang di sekitar Anda? Tuaian apakah yang akan dipanen dari semua yang Anda tanam setiap hari?
Dari luar mungkin sulit dibedakan antara benih dengan kerikil. Namun tentu saja, di dalam mereka sangat berbeda. Di dalam benih ada kehidupan, ia memiliki kuasa dan potensi di dalamnya. Sayangnya beberapa dari kita menghabiskan waktu untuk menanam batu—yang tidak punya potensi, tidak punya kehidupan, dan tidak berbuah. Jika orang melihat hidup Anda dari luar, mereka mungkin terkesan karena Anda menanam “hal-hal besar”: materi, prestasi, reputasi, dll. Tetapi buah apakah yang dihasilkan dari “hal-hal besar” ini? Jika yang Anda lakukan hanya mengumpulkan harta benda dan berusaha membuat orang lain terkesan, pada saat Anda mati, pengaruh Anda akan berakhir. Ukuran batu tidak berpengaruh; jika Anda menanam di tanah, hal itu tak akan pernah terlihat lagi.
Ujian penting untuk menentukan apakah kita menanam benih yang sesungguhnya muncul melalui motivasi kita dalam menanam. Apakah saya menanam benih untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri atau orang lain? Kita harus mati bagi diri kita sendiri—terhadap keinginan, tujuan, dan mimpi kita yang egois sehingga kita bisa menanam benih yang tidak egois (Yoh 12:24). Jika kita melakukan investasi dalam hidup orang-orang, warisan kita akan menjadi seperti pohon raksasa, memberikan kehidupan untuk generasi yang akan datang.
Kebanyakan petani tahu bahwa di mana Anda menanam itu hampir sama pentingnya dengan apa yang Anda tanam. Benih punya potensi, tetapi jika ditanam di tanah yang jelek, ia tidak akan menghasilkan buah. Tanah dalam perumpamaan ini menggambarkan jenis kehidupan yang berbeda. Yang pertama menggambarkan kehidupan yang tidak punya perasaan; gambaran orang yang tidak tertarik terhadap hal-hal rohani sama sekali, mereka hidup untuk diri mereka sendiri (ay 19). Jenis tanah berikutnya menggambarkan kehidupan yang nyaman; orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk mengikut Yesus tetapi tidak melangkah jauh dalam hubungan denganNya (ay 20-21). Selanjutnya adalah gambaran orang-orang yang mulai mengikut Allah, tetapi memenuhi hidupnya dengan hal-hal yang tidak akan bertahan dan tidak dapat menghasilkan kehidupan (ay 22). Jenis terakhir (ay 23) adalah orang-orang yang menerima kebenaran Allah, menanamnya dalam hidup mereka dalam-dalam, dan menghasilkan dampak yang dirasakan generasi yang akan datang.
Jika Anda menanam hal-hal sementara, Anda akan menuai hal-hal sementara; jika Anda menanam benih yang kekal, Anda akan menuai hasil yang kekal (Gal 6:7). Jika Anda ingin tahu bahwa hidup Anda berarti, Anda harus bersedia menanam benih yang kekal di tempat yang subur dalam hidup Anda.
PENERAPAN:
1. Seberapa banyak waktu yang Anda sediakan untuk membaca, mempelajari, dan menikmati firman Allah? Seberapa banyak waktu yang ingin Anda sediakan untuk firman Allah setiap minggu? Sediakan waktu dalam jadwal Anda pada hari-hari yang akan datang dan gunakan itu untuk mempelajari Alkitab Anda, dengan menyadari bahwa ini adalah benih yang akan menghasilkan buah bahkan setelah hidup Anda di dunia ini berakhir.
2. Yang lebih penting dari harta benda kita adalah nilai kita. Tulislah nilai-nilai yang ingin Anda wariskan dan siapa yang Anda harapkan untuk mewarisi hal itu dari Anda.
From “One Month to Live” by Kerry and Chris Shook

