Kamis, 16 Juli 2020
Bacaan : 1 Petrus 4 : 7-11
Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. (Roma 15:7)
Gunung Everest memiliki ketinggian lebih dari 8800 m, tetapi ketika Anda mencapai ketinggian 8000 m, Anda memasuki apa yang disebut dengan zona kematian. Di sana ketinggian begitu tinggi sehingga tidak bisa mempertahankan hidup manusia. Tubuh kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan level oksigen serendah itu, sehingga jika Anda tinggal di zona kematian terlalu lama, Anda akan mati.
Kita semua tahu antara tempat kita berada saat ini dengan tujuan yang ingin kita capai bisa menjadi pendakian yang curam. Dari pengalaman saya dan orang-orang yang saya beri konseling, tampaknya ada 3 gunung yang biasanya menghalangi kesatuan dalam hubungan.
Pertama adalah gunung kesalahpahaman. Kebanyakan hubungan tidak memiliki kekuatan untuk mendaki sampai puncak pertama sehingga kesalahpahaman dan percekcokan segera menumpuk. Pada awal hubungan, segala sesuatu tampak begitu positif. Anda mendaki jalur yang mulus bersama-sama, berdekatan satu dengan yang lain, dan kemudian—bum!—Anda menghadapi batu besar kesalahpahaman yang tampaknya melempar Anda keluar jalur.
Gunung lainnya yang harus kita daki dalam setiap hubungan adalah apa yang saya sebut sikap “aku lebih dulu.” Merupakan sifat manusia untuk berkata, “Aku akan memenuhi kebutuhanmu, tetapi kamu harus memenuhi kebutuhanku lebih dulu.” Sikap “aku lebih dulu” meninggalkan orang lain di zona kematian sementara kita dengan egois berusaha sampai di puncak.
Puncak ketiga adalah yang paling mematikan—gunung kesalahan. Seperti halnya kita mengalami kesalahpahaman dan keinginan untuk menempatkan diri kita sebagai yang pertama, kita semua berbuat salah, dan membuat segalanya berantakan.
Ketiga gunung ini membentuk panorama setiap hubungan. Kita bisa terancam oleh perjalanan mendaki, dan memandang tantangan itu tak dapat diatasi, lalu memutuskan untuk menyerah. Atau kita bisa menjadi orang yang tahu apa yang diperlukan untuk mengatasi rintangan dan tetap mendaki. Untuk sungguh-sungguh mencintai seseorang dalam hidup kita, kita harus mengatasi gunung tinggi yang menghambat hubungan ini dan belajar untuk mengatasi kesalahan dan menyisihkan kepentingan diri sendiri.
Halangan—kesalahpahaman, keegoisan, kesalahan—merupakan bagian dari setiap hubungan, tetapi kita bisa mengatasi hal itu dan bertumbuh lebih dekat dengan orang yang kita kasihi jika kita bersedia mempraktekkan penerimaan, tindakan penuh kasih, dan pengampunan terus-menerus. Sikap seperti ini membutuhkan suntikan kasih Allah yang supernatural, yang membantu kita melampaui kecenderungan dan harapan alamiah kita. Dia bersedia dan selalu siap menolong kita untuk mengasihi orang lain seperti Dia mengasihi kita. Dengan perawatan yang tepat yang Allah sediakan, kita bukan hanya bersama-sama menikmati pandangan dari puncak, tetapi menikmati pendakian itu juga.
PENERAPAN:
1. Diagnosis dan tulislah menurut Anda apa yang dibutuhkan oleh setiap hubungan yang penting dalam hidup Anda agar menjadi lebih sehat. Mungkin berupa aktivitas sederhana seperti menghabiskan waktu bersama, membahas masalah yang sulit, tetapi tidak terucapkan, atau mengirim catatan/whatsapp/email/mention di sosial media kepada seseorang yang menyatakan bahwa Anda memikirkan dia.
2. Sediakan waktu hari ini untuk berdoa bagi setiap orang yang Anda pandang penting dalam hidup Anda. Mohonlah kepada Allah untuk menunjukkan bagaimana Anda bisa memperbaiki hubungan dengan orang-orang yang sangat penting ini.
From “One Month to Live” by Kerry and Chris Shook

