Minggu, 7 November 2021
Bacaan : Amsal 10 : 19-21
Kecantikan wanita yang tak berbudi serupa cincin emas di hidung babi. (Amsal 11:22—BIMK)
Di hari musim panas yang sangat terik itu, saya berdiri gemetar di papan loncat sebuah kolam renang umum. Sebagai anak umur dua belas tahun yang tembem, saya sadar akan perubahan yang terjadi pada tubuh saya dan merasa malu terekspos di depan umum dengan pakaian renang.
Kami sedang mengunjungi nenek saya di Georgia utara, dan ia mendesak saya untuk menghabiskan waktu sore itu di kolam renang umum untuk “mencari teman”. Yah, saya terlalu malu untuk berbicara dengan orang yang tidak saya kenal (bahkan dengan orang yang saya kenal pun), jadi saya pun akhirnya bermain air sendirian di kolam yang tidak dalam.
Setelah melihat anak-anak yang berteriak gembira melompat dari papan yang paling tinggi selama satu jam, saya akhirnya mengumpulkan keberanian untuk naik melalui tangga yang sangat tinggi itu. Memang cukup tinggi untuk mencapai ke atas tetapi rasanya lebih menakutkan ketika saya sampai di sana.
Sekali mengintip melalui tepian dan saya langsung gemetar ketakutan. Saya tidak dapat maju ataupun mundur. Saya hanya berdiri di sana. Ketakutan.
Seorang gadis yang lebih besar di belakang saya mendesak. “Ayo, loncat!”
Ehm, tidak.
“Ayo dong loncat,” nadanya agak meninggi. “Yang di belakang ngantri nih.”
Saya. Tidak. Dapat. Bergerak.
Dia menggoyangkan kepalanya dengan mengejek. “Kamu harusnya nggak usah naik ke sini. Dasar pengecut. Gendut. Dan kamu jelek.”
Lalu saya melompat. Itu adalah satu-satunya cara untuk menutupi air mata saya.
Juruselamat yang penuh kasih,
Karena Engkau telah menciptakan aku menurut gambarMu, aku tahu bahwa memandang diriku sendiri jelek itu menyakiti hatiMu. Engkau tidak pernah menciptakan aku jelek, aku sendiri yang membuat diriku jelek. Tolonglah aku untuk terus mengingat bahwa aku indah di mataMu.
From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

