Bermimpi Besar

Rabu, 16 Desember 2020

Bacaan : Markus 14 : 3-9

Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. (Markus 14:4-6)

Sejak saya kelas 3 SD, impian besar saya adalah untuk mengajar di sekolah. Secara alami saya ini cukup bossy. Menjadi guru  merupakan penyaluran yang cocok untuk orang-orang bossy seperti saya.

Saya menjalani studi dari SMP sampai tahun terakhir saya di Universitas Georgia, dan tepat sebelum saya memulai praktek mengajar, pendeta kampus saya di Yayasan Wesley, Bob Beckwith, datang kepada saya membawa sebuah peluang. Wesley memberi kesempatan kepada siswa-siswanya untuk tetap tinggal setelah tahun terakhir mereka sebagai staf magang tak berbayar, dan Bob ingin saya mengambil tempat untuk magang di pelayanan wanita.

Impian besar saya untuk mengajar sudah di depan mata, yang perlu saya lakukan hanyalah mengisi surat lamaran yang tepat dan mencari pekerjaan mengajar.

Di sisi lain, staf magang kedengarannya asyik juga. Banyak teman dekat saya yang mengambil program ini, termasuk sahabat dan teman sekamar saya, dan saya telah cukup lama bertumbuh dalam pelayanan tersebut sehingga kesempatan itu pun rasanya sangat baik.

Tetapi pekerjaan itu tidak dibayar, dan selama magang di Wesley sebenarnya saya bisa mengumpulkan $15.000.

Lima belas ribu dollar (lebih dari 20 juta rupiah).

Impian Allah bagi saya jauh lebih besar daripada apa yang saya rencanakan selama ini.

Pada suatu Sabtu pagi sebelum libur Natal, saya duduk-duduk di kursi saya yang nyaman dan membaca Markus 14:3-6. Wanita dengan buli-buli pualam berisi minyak itu memberikan semua yang dimilikinya untuk Yesus. Hatinya, pengorbanannya, dan upah kerja selama satu tahun (uang 300 dinar di masa itu setara dengan upah kerja seseorang selama 1 tahun).

Saya tahu bahwa saya sedang diminta untuk berhenti sejenak dari impian besar saya—untuk memberikan upah kerja satu tahun sebagai persembahan kepada Tuhan dengan melayani para siswa dan melayani Tuhan Yesus sendiri—yang sekarang akhirnya saya lihat bahwa inilah impian terbesar Allah bagi hidup saya.

Akhirnya saya pun menjadi guru selama 5 tahun setelah masa magang itu. Saya masih terkagum-kagum bagaimana impian Allah bagi saya jauh lebih besar daripada apa yang saya rencanakan selama ini.

Bermimpilah besar. Beranilah untuk mempercayai bahwa sebesar apapun keinginan Anda, Allah sanggup memberikannya untuk Anda. Kita diciptakan untuk memberi dampak besar di muka bumi ini. Lebih besar dari yang dapat kita impikan sendiri.

JADILAH BERANI: Tulislah satu atau dua hal impian besar yang Anda miliki dalam hidup Anda.

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top