Tetap Bertahan

Senin, 18 Oktober 2021

Bacaan : 2 Korintus 4 : 7-18

kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. (2 Korintus 4:9)

Tukang kebun yang kami sewa untuk memangkas semak dan dedaunan terlambat melihat ada sarang burung. Sekarang tanpa ada dedaunan yang menutupinya, sarang itu langsung terpapar sinar matahari, dan induk burung yang menduduki empat butir telur kelihatan sangat kepanasan. Saya belum pernah melihat burung yang paruhnya terbuka dan lidahnya tergantung seperti seekor anjing yang terengah-engah.

Saya sangat tersentuh melihat induk burung yang berani ini yang telah terdesak ke dalam sebuah krisis yang tak terduga. Sepanjang siang ia bertahan, kepalanya mulai tertunduk lunglai dalam setiap jam yang berlalu di tengah teriknya panas Florida.

Ketika akhirnya ia meninggalkan sarang, saya memindahkan sarang itu ke tempat yang lebih terlindung tak jauh dari tempat sebelumnya. Itu sepertinya sebuah solusi yang sempurna, kecuali untuk satu hal. Burung itu tidak kembali lagi.

Saya tidak pernah tahu apakah si induk burung tidak berhasil menemukan lokasi baru dari sarangnya ataukah ia menyerah ketika perjalanannya terlalu melelahkan. Tetapi itu sangat menyedihkan hati saya.

Menjadi orang tua seringkali membuat kita merasa seperti itu. Kelelahan kronis, kekecewaan, dan tekanan yang tiada akhir membuat kita tertunduk lunglai waktu demi waktu yang berlalu. Panas terasa demikian menyengat. Kita benar-benar merasa ingin pergi meninggalkan sarang, dan tidak kembali lagi.

Memperhatikan burung kecil itu membuat saya berpikir: Bagaimanakah saya merespon ketika perjalanan hidup ini terasa berat? Apakah saya bertahan untuk sementara tetapi kemudian menyerah ketika solusi yang sempurna sebenarnya sudah di depan mata? Atau apakah saya bertekun seperti teladan para tokoh Alkitab yang bertahan?

Tuhan Yesus bertahan ketika dihina, dipukul, dipenjarakan, ditipu dan dikhianati. Orang-orang mengecewakanNya waktu demi waktu, tetapi Ia bangkit mengatasi kekecewaan dan terus melangkah. KekuatanNya untuk bertahan datang dari pandangan yang terarah hanya kepada Bapa, bukan dari diriNya sendiri.

Ya Juruselamat,

Ketika hal-hal terasa berat, ajarlah aku untuk bertekun dan mengarahkan pandanganku hanya kepadaMu.

From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top