Selasa, 19 Oktober 2021
Bacaan : 2 Samuel 6 : 5-15
Pujilah nama-Nya dengan tari-tarian, … (Mazmur 149:3—BIMK)
Saya akhirnya menerima rahasia kecil saya yang gelap. Saya adalah seorang pecinta musik dan tarian boogie (salah satu aliran musik blues). Saya sudah mencoba untuk berhenti, tetapi tidak bisa. Itulah sebabnya saya melayani di Sekolah Minggu—saya bisa berjoget bersama anak-anak tanpa ada yang memandangi dengan aneh.
Tapi hei, saya tidak sendirian. Anda tahu siapa diri Anda.
Ya, Tuhan Allah memberikan kepada beberapa di antara kita gen berjoget. Kita para pejuang goyang tidak dapat memadamkan dorongan tak terkendali untuk secara fisik merespon pada musik, meskipun dalam situasi yang kurang pas… bergoyang sambil mendorong keranjang belanjaan di supermarket, mengangguk-angguk mendengarkan suara musik yang keras saat berhenti di lampu merah, berdansa seperti Cinderella mendengar suara musik di lift mal.
Menahan dorongan ini seperti berusaha menyembunyikan jerawat.
Anda tahu? Ada kegembiraan tersendiri yang meluap lepas dari pujian tarian yang bebas. Kata Ibrani untuk tarian, mohol, juta berarti “putaran, lompatan sukacita”. Kemurnian dan keindahan dari ekspresi diri melalui gerakan sukacita spontan telah ditemukan tak terhitung dalam kebudayaan sejak awal penciptaan.
Saya pikir memang tarian yang didorong-oleh-roh dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah Bapa, baik dalam penyembahan yang tenang maupun dalam perayaan meriah atas berkat kemurahanNya.
Raja Daud tentu berpikir demikian waktu ia menari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga dalam perayaan masuknya Tabut Perjanjian ke Yerusalem (2 Samuel 6:14). Miryam, saudara Musa, sangat yakin ketika ia memimpin para wanita dalam tarian yang meriah setelah Allah menyelamatkan mereka dari tentara Mesir setelah membelah Laut Merah (Keluaran 15:20)
Dan saya percaya Bapa berpikir begitu juga. Lagi pula, gen berjoget adalah ide dariNya.
Ya Tuhan Allah kekuatanku dan mazmurku (Yesaya 12:2),
Terima kasih atas kebebasan untuk memuji dan sukacita tarian yang Engkau taruh di dalam rohku. Tolonglah aku untuk mendengarkan musikMu di dalam jiwaku.
From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

