Rabu, 6 Januari 2021
Bacaan : Amsal 3 : 5-8
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5-6)
Saya ada di kamar mandi tamu rumah teman saya Rob dan Emily, bersiap-siap untuk sebuah kencan yang saya sebenarnya tidak ingin pergi. Rob sedang menonton golf, dan saya sedang berdandan dan berusaha merapikan rambut saya.
Sementara saya bersiap-siap Rob mengajukan banyak pertanyaan kepada saya: Siapa cowok ini? Gimana kamu kenal dia? Kenapa kamu mau?
Sebelum pertanyaan-pertanyaan menyidik itu selesai, saya menangis.
Saya tidak ingin pergi untuk kencan ini. Saya baru saja putus dari seorang pria beberapa minggu sebelumnya, dan “kembali ke sana” itu seperti menaruh garam di atas luka dan berharap itu akan sembuh.
Tetapi saya bilang iya. Kencan berjalan baik-baik saja. Kami mengobrol dengan enak, dan dia menganggap saya orang yang lucu, jadi itu selalu teringat dalam hati saya. Kami tidak pernah pergi berkencan lagi.
Pergi berkencan dengan seseorang tidak menyelesaikan masalah begitu saja. Saya masih tetap sedih. Kencan itu tidak menyembuhkan saya. Tetapi ia membawa sesuatu yang baik bagi diri saya—mengetahui bahwa hidup ini terus berjalan. Saya akan baik-baik saja.
Saya tidak pernah menyesal bertindak berani melangkah dan mencoba.
Saya pernah mengalami kencan-kencan yang buruk, dan saya juga pernah mengalami kencan yang indah dan berlanjut ke dalam hubungan. Dan tentu saja ada orang-orang dan momen-momen yang membawa kenangan yang menyakitkan, tetapi saya tidak pernah menyesal bertindak berani melangkah dan mencoba.
Kalau Anda belum menikah, cobalah untuk pergi berkencan. Saya serius. Bawalah diri Anda ke sana, kawan. Anda hanya perlu melangkah, meskipun itu menakutkan atau hal yang tidak diketahui.
Anda akan belajar hal-hal tentang kasih dan sifat-sifat Allah dari hubungan pertemanan, pacaran, dan pernikahan. Rasa takut akan menghalangi Anda untuk memberikan hati Anda ke dalam hubungan-hubungan tersebut. Jangan biarkan ketakutan itu menang.
Bagi Anda yang menikah, tetaplah menjadi berani dalam pernikahan Anda. Berikanlah rasa hormat kepada pasangan Anda. Beranilah untuk terbuka dan mengkomunikasikan perasaan Anda. Jangan biarkan tahun-tahun yang menyakitkan membangun tembok di antara Anda dan pasangan Anda. Jangan lari ketika Anda merasa tertolak.
Beranilah untuk bertahan di dalamnya. Beranilah untuk mengampuni dan diampuni.
JADILAH BERANI: Anda pasti menyukai hal ini. Saudara yang sudah menikah, mintalah pasangan Anda untuk pergi berkencan. Teman-teman yang lajang, ajaklah seseorang untuk minum kopi bersama. Seseorang yang kemungkinan akan menjadi “seseorang”. Beranilah. Ayo! Ini kan hanya minum kopi.
From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

