Selasa, 1 Agustus 2023
Bacaan : Mazmur 131
Sesungguhnya, hatiku tenang dan tentram; seperti bayi yang habis menyusu, berbaring tenang di pangkuan ibunya, setenang itulah hatiku. (Mazmur 131:2—BIMK)
Menunggu adalah mempelajari anugerah rohani dari ketidakmelekatan, kebebasan keinginan. Bukan ketiadaan keinginan, tetapi keinginan yang beristirahat. Raja Daud menggambarkannya dengan indah, seorang bayi yang aman dan damai bersama ibunya. Tidak rewel, tidak ada air mata.
Kata tidak melekat mungkin bisa membawa kesan yang salah. Ini bukanlah sikap yang dingin dan acuh tak acuh; bukan sama sekali. Ini tidak mengurangi nilai keinginan, ini hanya membebaskan keinginan Anda kepada apa yang Tuhan janjikan.
Seperti yang dinyatakan oleh Thomas à Kempis, “Nantikanlah sejenak, wahai jiwaku, nantikanlah janji ilahi, karena engkau akan memiliki kelimpahan segala hal yang baik di surga.” Dalam postur ini Anda menemukan bahwa, memang Anda diperluas oleh keinginan. Sesuatu tumbuh dalam diri Anda, kapasitas yang berkembang kalau Anda bersedia, untuk kehidupan dan kasih dan untuk dibapai oleh Allah. Saya memikirkan Roma 8:24-25 (BIMK): “Karena dengan berharap, maka kita diselamatkan. Tetapi kalau apa yang kita harapkan itu sudah kita lihat, maka itu bukan lagi harapan. Sebab siapakah masih mengharapkan sesuatu yang sudah dilihatnya? Tetapi kalau kita mengharapkan sesuatu yang belum kita lihat, maka kita menunggunya dengan sabar.” Sesungguhnya ada rasa sakit yang manis dalam penantian, kalau kita membiarkannya membawa hati kita pulang.
~***~
Ya, Tuhan—aku merasakan kerinduan itu. Aku merasakannya bertumbuh. Aku memilih untuk membiarkan kerinduanku dan kekecewaanku membawa hatiku kembali ke surga.
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

