Sabtu, 25 Februari 2023
Bacaan : Efesus 2 : 13-22
Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, (Efesus 2:14)
Kepasrahan bukan sekedar desahan mengeluh ketika ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Kepasrahan adalah penerimaan akhir terhadap kehilangan. Ini adalah kondisi di mana Anda memilih untuk melihat hal yang baik bukan sebagai sesuatu yang menakjubkan lagi dalam hal keindahan dan keberaniannya, tetapi hanya semata-mata “oke”. Kejahatan tidak lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan; itu sudah biasa.
Dari tempat kepasrahan hati yang seperti inilah kemungkinan setiap kita dalam satu atau lain waktu, telah menderita dan menyerah dalam badai kehidupan. Tetapi hati Anda tidak akan benar-benar meninggalkan keintiman dan petualangan yang telah Anda lalui sehingga Anda berkompromi.
Namun di sisi Taman Eden yang ini, bahkan hubungan dengan Allah akan membutuhkan hati Anda untuk bekerja lebih mendalam jika Anda mau melanjutkan perjalanan rohani Anda. Di pengalaman padang gurun hati inilah, Anda harus menanggalkan pakaian perlindungan diri yang Anda pakai dalam peranan yang telah Anda mainkan dalam kisah-kisah kecil Anda, di mana luka-luka muncul kembali. Kesembuhan dan iman datang dalam cara yang belum Anda ketahui sebelumnya. Di titik perjalanan Anda ini, Anda menghadapi jurang yang lebar dan dalam yang tidak memungkinkan Anda melaluinya dengan kekuatan sendiri. Dan Tuhan memang bermaksud untuk memakai tempat ini untuk meruntuhkan tembok dan rintangan yang telah memisahkan hati Anda dariNya.
~***~
Tuhan Yesus—runtuhkanlah tembok yang telah memisahkan kita ini. Lakukanlah dengan lemah lembut, ya Tuhan.
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

