Sabtu, 3 Oktober 2020
Bacaan : Roma 6 : 1-14
Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. (Roma 6:8)
Salah satu bagian paling alamiah dari hal diciptakan menurut gambar Allah adalah kemampuan untuk memiliki impian. Inilah karunia yang Allah berikan. Namun, banyak orang percaya, dalam usaha mereka untuk menyenangkan Allah, membunuh kemampuan yang Ia berikan kepada mereka. Mereka berdalih, “Untuk sungguh-sungguh menyenangkan Allah, saya harus menyingkirkan segala sesuatu yang berkaitan dengan diri sendiri!” Itu kedengarannya rohani bagi banyak orang, tetapi itu lebih mirip dengan ajaran non-Kristen. Jika kita menjalankan pola pikir seperti itu dalam jangka waktu yang lama, kita akhirnya akan menjadi orang Kristen yang dikebiri. Mutilasi diri sendiri dalam bidang rohani juga merupakan suatu penyimpangan seperti halnya mutilasi fisik. Setiap kali kita berusaha memotong apa yang ditempatkan Allah dalam diri kita, dan kita mengembangkan roh yang bekerja melawan kita menjadi saksi yang sungguh-sungguh efektif. Tidak bijaksana untuk menyalibkan manusia yang sudah dibangkitkan dan menyebutnya pemuridan. Salib itu bukan untuk manusia baru; itu untuk manusia lama (Rom 6:5-9).
Bahkan banyak orang berdoa, “Tak ada sesuatu pun dari kami, semua dariMu.” Allah tidak mendapatkan apa pun dari kita ketika kita dilahirkan dan Dia tidak menyukai hal itu. Ia menciptakan kita untuk kesenanganNya. Doa yang lebih baik adalah, “Segala sesuatu dari kami dilingkupi oleh semua dariMu!” Bahkan pernyataan Yohanes Pembaptis, “Ia harus semakin bertambah, sedang aku semakin berkurang” seringkali disalahpahami untuk mendukung bentuk kekristenan yang tidak menghargai diri sendiri. Lihat konteksnya; Yohanes menyerahkan tongkat komando kepada Yesus. Tugasnya adalah mempersiapkan jalan bagi Mesias. Ia perlu menyingkir dari jalan, pada saat ia menutup pelayanan nubuat Perjanjian Lama. Yesus akan melakukan penggenapan bagi seluruh nubuat para nabi dan akan memulai kekuasaan Allah yang nyata di bumi. Yohanes Pembaptis menyerahkan tongkat komando kepada Yesus, dan Ia meneruskannya kepada kita sehingga kita akan makin bertambah.
Kesalahpahaman mengenali nilai dan identitas kita kadang-kadang sangat akut dalam kebangunan rohani, karena pencurahan Roh selalu mendatangkan kesadaran yang makin besar akan dosa kita. Beberapa himne paling terkenal tentang pengakuan dosa dan penyesalan yang dalam telah ditulis selama periode itu. Tetapi penyataan tentang dosa dan ketidaklayakan kita hanyalah separuh kebenaran. Banyak kebangunan rohani tidak melampaui tahap ini, dan karena itu tidak dapat memelihara gerakan Allah sampai menjadi gaya hidup. Sangat sulit membangun sesuatu yang berarti di atas hal-hal yang negatif. Separuh kebenaran lainnya adalah betapa kudusnya Ia demi kita dan siapa kita sebagai hasilnya. Jika hal ini disadari, identitas kita berubah ketika kita mengenal rencana keselamatan kita oleh iman. Pada satu tahap tertentu, kita harus melangkah melampaui posisi “orang berdosa yang diselamatan oleh iman.” Pada saat kita belajar hidup dari posisi kita di dalam Kristus, kita akan membuahkan hasil yang terbesar sepanjang waktu.
Sepanjang sejarah gereja, orang-orang telah meng-hilangkan karunia, talenta dan keinginan yang diberikan Allah kepada mereka, di bawah samaran pengabdian kepada Kristus. Versi kekristenan yang sudah banyak dilucuti ini menjauhkan orang percaya dari pelayanan, dan mengkhususkan hak istimewa tersebut kepada kelompok Kristen tertentu yang disebut “hamba Tuhan”. Perananan orang percaya secara rutin dikurangi hanya sebagai pendukung orang-orang yang terlibat dalam pelayanan umum secara finansial dan emosional. Bekerja tanpa impian dan keinginan yang terpenuhi berarti bermitra dengan roh keagamaan yang meninggikan rutinitas tanpa tujuan, dan menyebutnya penderitaan. Kehormatan memberi untuk mendukung pelayanan tidak boleh diremehkan, tetapi tekanannya tidak boleh mengorbankan tiap-tiap individu yang membawa ekspresi Injil mereka sendiri secara kreatif melalui perwujudan mimpi dan keinginan yang diberikan Allah kepada mereka.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

