Anak-anak akan Seperti Bapanya

Minggu, 4 Oktober 2020

Bacaan :  Yohanes 5 : 19-29

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Bapa kita di surga adalah Pencipta segala sesuatu, dan Pemberi segala hal yang baik. Anak-anak Allah harus serupa dengan Dia. Artinya, mereka harus kreatif. Jika orang tidak percaya berada di garda depan dalam penemuan dan ekspresi seni, itu terjadi karena gereja telah meyakini sejenis spiritualitas yang palsu. Itu bukan mentalitas kerajaan yang sejati, yaitu akal budi yang diperbarui. Akal budi yang diperbarui memahami bahwa kekuasaan Raja harus diwujudkan di semua level masyarakat agar mereka melihat kesaksian yang baik. Seseorang dengan pola pikir Kerajaan melihat pada kebutuhan-kebutuhan besar dunia ini dan berkata, “Allah punya solusi untuk problem ini. Dan saya punya akses legal ke dalam wilayah rahasiaNya. Sebab itu saya akan mencari Dia untuk mendapatkan jawabanNya.” Dengan sudut pandang Kerajaan, kita menjadi jawaban dengan cara yang hampir sama dengan Yusuf dan Daniel bagi raja-raja pada jaman mereka.

Untuk bebas bermimpi bersama Allah, seseorang harus belajar menjadi rekan sekerjaNya. Keinginan orang percaya yang sejati tidak pernah terlepas dari Allah. Tujuannya bukan untuk mencari jalan untuk membentuk pikiran Allah, seolah-olah Ia membutuhkan masukan kita. Sebaliknya kita berusaha mewakili Dia dengan baik. Belajar menyatakan isi hatiNya secara insting dan akurat merupakan kerinduan orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah. HatiNya rindu menebus semua orang, dan alat yang Ia pakai untuk menyatakan kebaikanNya luar biasa besarnya, dan menjangkau kebutuhan yang dirasakan setiap orang. Hanya hikmat Allah yang dapat memenuhi tantangan itu.

Belajar bermimpi bersama Allah untuk dunia ini merupakan titik awal. Bermimpi kadang-kadang mahal harganya. Kita tahu bahwa mimpi Bapa untuk menebus umat manusia membuatNya harus membayar dengan kehidupan AnakNya. Namun, bermimpi bersamaNya akan melepaskan kemampuan baru dalam diri kita untuk bermimpi seperti Dia.

From “Dreaming with God” by Bill Johnson

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top