Katakan Tidak

Sabtu, 16 Januari 2021

Bacaan : Daniel 3 : 8-30

Tetapi seandainya Ia tidak melakukannya juga, hendaknya Tuanku maklum bahwa kami tidak akan memuja dewa Tuanku dan tidak pula menyembah patung emas yang Tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:18BIMK)

Mungkin Anda sudah pernah mendengar saya berbicara tentang hal ini sebelumnya, tetapi saya sangat tersentuh oleh kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam Daniel 3. Pemuda-pemuda Israel ini ditangkap sebagai budak ketika mereka masih remaja dan dibawa ke Babel bersama-sama dengan Daniel.

Dalam Daniel 1, kita melihat mereka berkata tidak untuk daging dan makanan-makanan bangsawan selama 10 hari, dan di akhir hari ke-10, mereka mendapat pengakuan akan kekuatan mereka, terutama karena mereka tidak makan seperti prajurit-prajurit lain yang sedang berlatih.

Beberapa tahun kemudian, para pemuda ini menjadi pegawai pemerintah di Babel, dan Daniel melayani di istana raja. Raja Nebukadnezar membangun patung emas yang sangat besar—27 meter tingginya, dan lebarnya hampir 3 meter. Dan kemudian ia memutuskan bahwa semua orang harus sujud menyembah patung itu setiap kali alat-alat musik dibunyikan, dan barangsiapa yang tidak menyembah akan dilemparkan ke dalam dapur api.

Para pemuda ini hanya menyembah Allah yang benar dan tidak tertarik untuk bersujud pada apapun yang lain. Mereka berkata tidak sekalipun semua orang berkata ya.

Dapatkah Anda membayangkan keberanian seperti itu? Untuk tetap berdiri ketika semua orang berlutut? Mengetahui resikonya, mengetahui siapa diri Anda dan bagaimana Anda dihargai, namun tetap memilih yang berbeda dari boss Anda, dalam hal ini adalah raja, dengan cara yang mengancam nyawa?

Lihatlah ayat hari ini (versi BIMK). “Tetapi seandainya Ia tidak melakukannya juga…” Sekalipun Allah tidak menyelamatkan kami dari hal ini, kami tetap berkata tidak.

Saya berharap saya selalu mempunyai keberanian untuk berkata tidak. “Aku tahu apa yang Tuhan sanggup lakukan, tetapi seandainya Ia tidak melakukannya, aku tidak akan menyembah allah lain. Aku hanya akan menyembah Allah yang benar.”

Aku tahu Allah sanggup menyembuhkan teman saya yang sakit, tetapi sekalipun Ia tidak melakukannya…

Aku tahu Allah sanggup memulihkan hubungan ini, tetapi sekalipun Ia tidak melakukannya…

Aku tahu Allah sanggup memberikan pasangan, tetapi sekalipun Ia tidak melakukannya…

Aku tahu Allah sanggup memberkati aku secara finansial, tetapi sekalipun Ia tidak melakukannya…

Banyak jawaban ‘tidak’ yang berani akan membawa kepada jawaban ‘ya’ yang indah.

Benar, bukan? Sekalipun. Ia. Tidak. Melakukannya.

Ketiga pemuda ini mengatakan demikian, padahal mereka tahu nyawa mereka dipertaruhkan, dan mereka tetap tidak mundur.

Mereka berani. Mereka berkata tidak. Dan sekalipun suara ketakutan pasti telah berbisik di telinga mereka, tetapi mereka tidak mendengarkannya. Mereka tetap berdiri dengan jawaban tidaknya dan percaya bahwa Allah tetaplah Allah.

Banyak jawaban ‘tidak’ yang berani akan membawa kepada jawaban ‘ya’ yang indah.

Dan saya tidak yakin Anda bisa selalu memilih yang benar setiap waktu—mengatakan ‘ya’ yang benar dan ‘tidak’ yang benar. Saya juga tidak selalu benar. Tetapi keberanian tidak setara dengan benar, keberanian setara dengan melangkah dan mencoba.

Beranilah dan katakan ya. Tetapi juga beranilah dan katakan tidak. Melompatlah ke dalam arusnya. Berjalanlah ke dapur api. Berdirilah. Duduklah. Terbanglah dengan pesawat itu. Katakan hal-hal yang diminta oleh keberanian untuk Anda katakan, bahkan jika kata itu adalah “tidak”.

JADILAH BERANI: Hari ini, untuk satu hal apakah Anda bisa berkata ‘tidak’ yang akan bisa memberi ruang bagi Anda untuk ‘ya’ yang lebih baik di masa depan?

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top