Minggu, 2 Agustus 2020
Bacaan : Matius 18 : 21-35
dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, (Titus 2:7)
Jika kita ingin memberi dampak pada orang yang mengikut kita, kita harus sungguh-sungguh mengasihi Allah, melayani orang lain dan memberi sesuatu yang diberikan kepada kita. Salah satu cara terbaik agar kita bisa meninggalkan jejak rohani yang unik adalah melalui cara kita memperlakukan orang lain.
Kita kadang tergoda untuk mengabaikan kesalahan dan kekurangan kita sendiri dan berfokus sepenuhnya pada kesalahan orang lain di sekitar kita. Allah memanggil kita untuk melihat ke dalam dan memeriksa hati nurani kita sendiri tanpa menghakimi orang lain. Kita semua telah melakukan kesalahan. Kabar baiknya adalah Yesus mengampuni dan menyucikan kita dari puing-puing kehancuran yang terdalam. Karunia ini sudah tersedia bagi kita setiap hari, entha kita hanya punya 4 minggu atau bertahun-tahun yang tersisa di hidup ini.
Ketika orang mengalami pengampunan dan kasih Allah melalui karunia AnakNya, mereka seringkali siap untuk memohon ampun kepada orang-orang yang sudah mereka lukai dan memberikan kemurahan mereka kepada orang-orang yang menyakiti mereka. Dengan kebebasan dan sukacita yang mereka alami sebagai dampak pengampunan Allah, mereka diberi kekuatan untuk menghadapi beberapa episode hidup mereka yang sulit.
Jika kita menghakimi orang lain lebih sedikit dan mengakui kekurangan kita sendiri lebih banyak, kita akan meninggalkan warisan yang kekal—yaitu karakter kita dan dampaknya bagi generasi yang akan datang. Memohon ampun dan mengakui luka kita mungkin tidak semudah atau sealami seperti yang kita kehendaki. Namun jika kita tahu kita mungkin tidak akan punya kesempatan lainnya untuk meluruskan hubungan kita, kita akan mengambil setiap kesempatan untuk menyampaikan penyesalan kita karena telah melukai orang lain.
Bapa kita memberi kekuatan kepada kita untuk menjalani hidup yang diubahkan ketika kita mengakui kesalahan kita dan menerima konsekuensinya. Kasih karunia menerima saya sebagaimana adanya, tetapi kasih karunia juga memberi saya kuasa untuk berubah. Ketika kita berada dalam atmosfer kasih karunia Allah dan merasa diterima sepenuhnya, kita merindukan perubahan. Kita juga ingin mengenal Dia dan menjadi seperti Dia.
Kita tidak bisa meninggalkan jejak rohani yang kekal kecuali kita berempati dengan orang lain, mengampuni mereka sebagaimana kita telah diampuni. Kita harus menerima satu dengan yang lain dan menunjukkan kasih Kristus kepada orang-orang di sekitar kita. Hanya kasih karunia Allah yang mengijinkan kita untuk melepaskan luka-luka lama dan mengampuni orang lain. Hanya kasih karuniaNya yang bisa memotivasi kita untuk menyingkirkan kesombongan, rasa malu, perasaan bersalah, dan penyesalan serta memohon kepada orang lain untuk mengampuni kita. Makin banyak kita bisa mempraktekkan kasih karunia dalam hidup kita, makin besar warisan yang akan kita tinggalkan.
PENERAPAN:
1. Pikirkan seseorang yang Anda kasihi yang sudah meninggal. Bagaimana Anda menggambarkan warisan rohaninya? Apa yang ingin Anda teladani dari warisan karakter orang ini? Apa yang ingin Anda hindari?
2. Sediakan waktu bersama Allah dalam doa dan pengakuan. Mohonlah kepadaNya untuk menyatakan kasih karuniaNya kepada Anda dengan cara baru, yang membantu Anda menangkap kepenuhan kasihNya kepada Anda dengan lebih baik. Temuilah orang yang Anda sakiti atau lukai dan mohonlah ampun. Adakah seseorang yang membutuhkan pengampunan Anda? Renungkanlah harga yang mahal yang telah dibayar Allah untuk mengampuni Anda.
From “One Month to Live” by Kerry and Chris Shook

