Senin, 12 Oktober 2020
Bacaan : 2 Korintus 4 : 7-18
Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (2 Korintus 4:16)
Pada tahun 1920-an, seorang laki-laki bernama Mallory memimpin ekspedisi untuk menjadi pendaki pertama yang mencapai puncak Gunung Everest. Ia berusaha melakukan itu melalui dua usaha terpisah, tetapi gagal. Ia kembali bekerja mengumpulkan tim pendaki terbaik yang ada, dengan perlengkapan terbaik. Mereka memberikan perhatian ekstra pada detil tugas mereka, terutama berfokus pada masalah keamanan. Meskipun mereka telah berusaha keras, tragedi tetap terjadi. Banyak orang dalam eskpedisinya mati saat salju longsor termasuk Mallory. Hanya beberapa yang bertahan hidup.
Ketika tim itu kembali ke Inggris, sebuah pesta diadakan untuk menghormati mereka. Pemimpin pendaki yang selamat dari musibah tersebut berdiri untuk menerima aplaus dari orang-orang yang hadir. Ia memandang gambar teman-temannya yang dipajang di sekeliling ruangan. Sambil menahan cucuran air matanya, ia berbicara kepada gunung itu demi Mallory dan teman-temannya, “Aku berkata kepadamu, Gunung Everest, atas nama para pemberani yang masih hidup dan yang belum lahir. Gunung Everest, kamu telah mengalahkan kami satu kali, kamu mengalahkan kami dua kali, kamu mengalahkan kami tiga kali. Tetapi Gunung Everest, kami suatu hari akan menaklukkanmu, karena kamu tidak bisa bertambah besar, tetapi kami bisa!” Kematian dan kekecewaan tidak bisa mengakhiri usaha penaklukan itu. Justru sebaliknya itu menjadi dasar bagi kesuksesan pada masa yang akan datang.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

