Selasa, 23 Agustus 2022
Bacaan : Matius 7 : 12-14
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13-14)
Saya ingat ketika pertama kali menemui ayat bacaan hari ini, saya sedang memimpin Pendalaman Alkitab dengan beberapa teman di kelompok persaudaraan saya. Anda ingat saya pernah menceritakan bahwa saya memulai kelompok ini sebagai gerakan humas untuk mengubah reputasi kami sebagai anak-anak nakal. Tahu ‘kan, kalau kelompok persaudaraan mengadakan kegiatan Pendalaman Alkitab, maka mereka tidak mungkin buruk semuanya. Masalahnya adalah waktu itu saya belum menjadi Kristen!
Jadi ketika saya menemui pernyataan Yesus ini, saya seperti membentur tembok besar. Apa gerangan maksudnya? Sepertinya Yesus sedang berkata bahwa mayoritas manusia akan mengikuti arus dan mengambil rute yang diambil oleh kebanyakan orang, sekalipun itu menuju kehancuran. Bagaimanapun, pengikut Kristus tidak seperti orang kebanyakan. Mereka akan mengambil jalan yang lebih menantang melalui pintu yang sempit. Dan hidup yang baru menanti mereka di balik pintu itu.
Perkataan Yesus menggoncangkan diri saya, menanamkan benih yang akhirnya menuntun saya berlutut di lapangan softball kampus dan mengundangNya ke dalam hati dan menjadi Tuhan dalam hidup saya. Tetapi saya tidak pernah melupakan rasa kagum, takut, dan kerinduan ketika saya menyadari apa itu artinya mengikut Kristus dan berjalan memasuki pintu yang sempit itu.
Ke arah manakah Anda berjalan saat ini? Apakah Anda berada di jalan tol bebas hambatan menuju kehancuran? Atau Anda ada di jalan yang sempit menuju kepada Allah?
DOA KEKUATAN
Aku berkomitmen untuk mengikut Engkau, ya Tuhan, bahkan sekalipun aku tidak selalu mengerti ke mana Engkau membawaku atau bagaimana aku akan sampai ke sana. Hari ini aku mau mengikut Engkau melalui jalan yang sempit itu yang memimpinku menuju hidup yang baru.
From “Daily Power: 365 Days of Fuel for Your Soul” by Craig Groeschel

