Rabu, 12 April 2023
Bacaan : Matius 16 : 24-28
Mengapa dari puncakmu yang banyak itu engkau memandang dengan cemburu kepada Bukit Sion yang dipilih Allah untuk kediaman-Nya? TUHAN akan tinggal di sana untuk selama-lamanya. (Mazmur 68:17—BIMK)
Ketika manusia memilih untuk melawan Allah saat kejatuhan dalam dosa, kita menempatkan ego kita menggantikan posisi Tuhan. Anda akan memperhatikan bahwa Yesus menanggapi masalah ini dengan serius saat Ia berkata bahwa kita harus mati setiap hari bagi diri sendiri jika kita mau mengikut Dia, jika kita mau menjadi anak-anak Allah. Kita tidak terlalu menyukai undangan Kekristenan yang bagian itu. Perhatikanlah tidak ada buku terlaris yang berjudul Mati Bagi Dirimu Setiap Hari! Judul seperti ini tidak menarik bagi ego kita.
Untuk jelasnya, yang saya maksud dengan “ego” adalah bagian dari diri kita yang selama percakapan selalu menantikan momen ia ditanya bagaimana kabarmu, tidak sabar untuk menceritakan kisah kita. Ini adalah bagian diri kita yang merasa sulit bersukacita saat orang lain bersukacita. Bagian yang mudah tersinggung saat sedikit diperlakukan salah. Ego ini adalah tempat berkembang biak bagi iri hati.
Dorothy Sayers menuliskan, “Diawali dengan bertanya, secara masuk akal, ‘Mengapa aku tidak menikmati apa yang dinikmati oleh orang lain?’ dan diakhiri dengan tuntutan, ‘Mengapa orang lain harus menikmati apa yang tidak kunikmati?’ Iri hati sangat ahli dalam menyamaratakan, jika ia tidak dapat mengangkat sesuatu, ia akan menurunkannya.”
~***~
Tuhan Yesus—aku tidak mau hidup dalam ketersinggungan. Aku tidak mau hidup dalam iri hati. Tunjukkanlah padaku bagaimana ini semua bekerja dalam hidupku, Tuhan.
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

