Minggu, 15 Oktober 2023
Bacaan : Mazmur 37 : 1-6
Kami mengikuti keputusan-Mu, ya TUHAN, dan menanti-nantikan Engkau; Engkaulah pujian dan kerinduan hati kami. (Yesaya 26:8—BIMK)
Bukankah janji kembalinya hidup adalah hadiah yang Anda nanti-nantikan? Kesembuhan dari semua kehancuran, yang hilang ditemukan, dan yang letih lesu mendapat kelegaan? Hidup sampai batasnya adalah janji Anda.
Kekristenan menganggap keinginan sebagai sesuatu yang serius—jauh lebih serius daripada paham stoik atau sekedar hedonis. Kekristenan tidak mau mengalah pada kenyataan bahwa manusia diciptakan untuk kesenangan, bahwa awal dan akhir hidupnya adalah surga, dan bahwa tujuan dari hidup adalah menemukan kehidupan. Yesus tahu dilema dari keinginan dan Ia membahasnya hampir dalam segala hal yang Ia katakan.
Ketika tiba pada pertanyaan moral, tidaklah sesederhana berkata ya atau tidak pada keinginan, tetapi selalu apa yang kita lakukan dengan keinginan kita. Kekristenan mengakui bahwa kita mempunyai keinginan yang bergejolak dalam diri kita. Tetapi ia tidak berusaha membunuh keinginan itu; melainkan berusaha menyembuhkan keinginan tersebut, seperti halnya ia mencari kesembuhan setiap bagian lain dari diri manusia.
Allah itu realistis. Ia juga tahu bahwa kebahagiaan itu rapuh dan bertumpu pada landasan yang lebih besar dari kebahagiaan. Semua disiplin Kristen dirumuskan di suatu waktu dengan tujuan untuk menyembuhkan keinginan yang tidak patuh, dan dengan demikian melalui ketaatan, membawa kita pulang kepada kebahagiaan. Sahabatku, tujuan moralitas bukanlah moralitas—melainkan ekstasi. Anda dimaksudkan untuk kesenangan!
~***~
Berhentilah sejenak dan renungkanlah: tujuan moralitas bukanlah moralitas—melainkan ekstasi. Jiwa Anda dibuat untuk kesenangan. Ke manakah Anda akan membawa kebutuhan tersebut hari-hari ini?
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

