Bisnis

Rabu, 11 November 2020

Bacaan :  Amsal 3 : 1-18

Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya. (Amsal 10:22)

Banyak orang Kristen berusaha mendapatkan dukungan dan posisi dalam dunia bisnis, tetapi gagal dengan menyedihkan. Sangat sulit mendapatkan dukungan dalam dunia ini tanpa memiliki kemakmuran. Kemakmuran merupakan ukuran utama bagi kesuksesan dalam bidang ini. Dengan pandangan ini, dunia juga penuh dengan kisah tentang kesuksesan finansial yang besar. Orang-orang secara insting menginginkan keduanya—kesuksesan lahiriah dan batiniah. Pebisnis Kristen memiliki kesempatan memberikan gambaran sukses yang lebih lengkap dengan tidak berfokus pada uang saja. Gaya hidup mereka yang menikmati kehidupan dengan segala isinya, akan mendapat perhatian dari orang-orang yang terperangkap tanpa harapan dalam kesibukan sehari-hari yang diwarnai filosofi “uang adalah kesuksesan”.

Dunia tahu bahwa uang bukan satu-satunya ukuran sukses yang sejati. Sebagian besar orang yang terlibat dalam bisnis ingin mendapat lebih banyak dari sekedar uang dalam pekerjaan mereka. Hal-hal sederhana seperti sukacita, kehidupan rumah tangga yang bahagia, penghargaan, dan persahabatan yang bermakna merupakan bagian penting dari kehidupan yang diwarnai kemakmuran yang sejati. Yohanes mengacu hal itu sebagai “kemakmuran jiwa” (lihat 3 Yoh 2). Dalam pengejaran hal itu juga tersisip kerinduan akan makna. Pebisnis yang berorientasi Kerajaan Allah telah mempersiapkan diri untuk memperlihatkan unsur tersebut melalui sudut pandang mereka terhadap kehidupan. Usaha ekstra untuk memberikan kelegaan bagi dunia, akan membantu orang agar dapat dengan jelas melihat perkenanan Allah yang turun atas pebisnis Kerajaan.

Kreativitas merupakan unsur yang penting bagi pebisnis Kerajaan. Hal itu memunculkan ide segar yang membuat petualangan sebagai bagian penting tugas mereka. Penemuan yang unik akan meningkat di kalangan orang Kristen, ketika Allah menggunakan ekspresi hikmat untuk mendatangkan transfer kekayaan bagi tujuan Kerajaan.

Amsal 22:29 memberi tahu kita 2 hal: Pertama, dampak mengejar keunggulan, mereka akan mempengaruhi si pemberi pengaruh. Kedua, raja-raja menuntut keunggulan. Banyak orang melakukan kompromi dalam bidang ini untuk mendatangkan hasil yang tepat, tetapi keunggulan itulah yang memberikan hasil jangka panjang. Itu adalah kekayaan yang tidak mendatangkan dukacita (Ams 10:22). Keunggulan adalah nilai Kerajaan, dan itu tidak boleh dicampuradukkan dengan perfeksionisme, yang berlawanan dan muncul dari roh keagamaan.

From “Dreaming with God” by Bill Johnson

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top