Beritahu Seseorang

Selasa, 22 Desember 2020

Bacaan : 1 Samuel 19 : 1-7

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibrani 10:24-25)

Di gereja di kota asal saya, anak-anak SMA mengadakan dan menjadi tuan rumah retreat remaja. Itu adalah pengalaman yang menarik. Beberapa tahun yang lalu, saya menjadi pemimpin di kaum dewasa, dan kami berada di salah satu tempat retreat yang mempunyai kabin dan tempat tidur susun serta dua kamar mandi untuk setiap dua puluh orang. Asyik sekali kalau Anda bayangkan.

Pada hari Sabtu malam dalam retreat tersebut, saya sudah meringkuk ke tempat tidur saya yang bersebelahan dengan tempat tidur susun lainnya, dan saya menutup mata. Kira-kira setengah menit kemudian saya merasa seseorang menepuk pundak saya.

Karena kami ini orang-orang yang suka mengerjai orang lain, waktu itu saya yakin kalau (1) seseorang akan menyemprot muka saya dengan semacam cairan atau (2) saya akan diajak untuk mengerjai orang lain. Sebaliknya, ternyata itu adalah Mallory, siswa senior yang membantu memimpin retreat tersebut. Beberapa bulan lagi dia akan lulus SMA dan akan segera masuk ke Universitas Auburn.

Mallory meminta saya untuk bangun, jadi saya segera duduk. Saya agak kuatir—apakah ada sesuatu yang terjadi? Mallory memandang ke langit-langit tempat tidur kami. Cahaya bulan masuk melalui celah-celah tirai kamar, tetapi cukup untuk saya bisa melihat bahwa ia sedang bergumul tentang sesuatu dalam hatinya.

Percikan keberanian itu telah tumbuh di dalam hatinya selama beberapa hari, mungkin beberapa minggu.

“Aku tidak mau pergi ke Auburn,” bisiknya, dan saya mendengar suara air mata menetes di atas bantal saya. Saya menunggu, kalau dia akan mengatakan sesuatu hal yang lain. Setelah beberapa saat dia tetap terdiam, saya baru merespon.

“Oke, Mal. Kamu nggak harus pergi.”

“Sepertinya,” ia bicara dengan terbata-bata, “aku ingin jadi misionaris. Aku mau kuliah di YWAM.” Suaranya masih bergetar.

“Oke, Mal. Kamu bisa kuliah ke sana.”

Mallory tidak memulai perjalanan keberaniannya di situ. Percikan keberanian itu telah tumbuh di dalam hatinya selama beberapa hari, mungkin beberapa minggu. Dan kemudian dalam jam-jam dan menit-menit sebelum ia benar-benar bangun dari tempat tidurnya untuk membangunkan saya, dia harus melangkah bukan? Melangkah untuk memberitahu seseorang.

Apakah Anda ingin menjadi berani? Beritahu seseorang bahwa Anda ingin menjadi berani, lalu lihatlah apa yang akan Tuhan kerjakan.

JADILAH BERANI: Hubungilah seorang teman hari ini melalui telpon atau whatsapp. Ajaklah dia bertemu untuk makan siang atau sekedar minum kopi atau jalan-jalan. Dan ketika Anda bercakap-cakap, ceritakanlah kepada teman Anda satu hal berani yang belum perah Anda katakan sebelumnya.

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top