Bahasa Indera

Jumat, 6 November 2020

Bacaan :  Ibrani 5:11—6:8

Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. (Ibrani 5:14)

Kelima indera kita bukan hanya merupakan alat yang membantu kita untuk menikmati kehidupan, mereka juga merupakan alat yang memampukan kita untuk mendengar Allah lebih baik. Dalam Mazmur kita diberi tahu bahwa tubuh si penulis lagu itu sesungguhnya rindu akan Allah (lihat Mzm 84:2). Dalam bahasa Ibrani, penulis menyatakan bahwa indera harus dilatih untuk membedakan yang baik dari yang jahat (Ibr 5:14). Dalam perikop itu, kemampuan ini sesungguhnya digunakan sebagai tanda kedewasaan—dapat menggunakan inderanya untuk mengenali Allah.

Dalam satu ibadah kami di suatu hari Minggu, seorang perempuan muda datang dan berdiri di depan saya. (Bagian depan altar penuh sesak dengan orang-orang yang ingin memberikan ekspresi penyembahan mereka.) Ketika orang-orang mengangkat tangan mereka atau menari dengan sukacita, perempuan ini melakukan segala jenis gerakan yang berbeda dengan tangan dan lengannya. Kami biasa menerima kunjungan banyak orang yang terlibat dalam okultisme, yang datang ke dalam kebaktian kami—beberapa datang karena rindu, beberapa untuk mengganggu. Kami tidak terlalu peduli dengan itu, tetapi kami selalu berjaga-jaga.

Saya bertanya-tanya tentang perempuan itu dan berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi. Seolah-olah karunia membedakan roh dalam diri saya tertutup. Tetapi saya melihat bahwa tempat di mana saya berdiri berubah menjadi dingin. Saya ingat perjumpaan saudara saya dengan kuasa gelap beberapa tahun sebelumnya di mana kantornya berubah menjadi dingin selama beberapa jam. Jadi saya berjalan sejauh 5 meter dan merasakan suhunya normal. Saya mendekati Summer, yang memimpin pelayanan tarian di tim profetik kami, dan meminta kepadanya untuk naik ke mimbar dan menari. Saya memberi tahu dia, “Kita perlu menghancurkan sesuatu.” Ketika ia melakukan itu, perempuan  muda itu jatuh tepat di depan saya. Tindakan menari itu—ketaatan fisik mendatangkan kelepasan rohani. Istri saya berlutut di dekat perempuan itu dan melepaskan dia dan kemudian menuntunnya kepada Kristus.

From “Dreaming with God” by Bill Johnson

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top