Anda Lebih Berani dari yang Anda Tahu

Rabu, 25 November 2020

Bacaan : Yesaya 30 : 18-21

dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,” entah kamu menganan atau mengiri. (Yesaya 30:21)

Pada bulan Oktober tahun 2007, saya mulai merasakan sesuatu yang bergejolak dalam roh saya. Ini adalah cara terbaik bagaimana saya bisa menggambarkan perasaan itu. Setelah beberapa minggu merasakan perasaan yang aneh itu, saya merasa saya harus bersungguh-sungguh berdoa dan meminta Tuhan untuk mengarahkan saya. Saya merasa bahwa saya harus membuat perubahan, tetapi saya tidak tahu perubahan apakah itu.

Maka saya bertanya kepada Tuhan. Dan hati saya terus-menerus mendengar bahwa inilah waktunya untuk pindah. Ke Nashville. Dan setelah pergumulan selama beberapa bulan, akhirnya saya berangkat.

Saya menangis sepanjang perjalanan. Tiga setengah jam. Sekarang saya tahu, bahwa saya bukannya pindah ke kota yang (belum) ada di belahan bumi yang lain, tetapi gadis asal Georgia ini akan melangkah cukup jauh dari rumah, lebih dari yang pernah ia impikan.

Saudaraku, Anda perlu tahu hal ini. Saya tidak pernah merasa berani. Saya tidak pernah mengalami momen dengan keberanian ekstrim atau keyakinan bahwa ini akan menjadi keputusan terbaik yang pernah saya buat. Saya hanya melakukannya saja. Berhenti dari pekerjaan saya. Menjual rumah saya. Mengepak barang-barang saya. Berangkat ke utara sampai saya melewati perbatasan negara bagian dan tidak berhenti sampai saya melihat bangunan yang menjadi ciri khas di Nashville—gedung Batman.

Saya tidak akan membuat Anda bosan dengan cerita cucuran air mata dan gemeretak gigi selama minggu-minggu awal (oke, bukan minggu, tapi bulan-bulan awal) sejak saya pindah. Tapi itu benar-benar parah. Menyakitkan. Kesepian.

Bolehkah saya mengatakannya lagi? Saya tidak pernah merasa berani. Namun dari hari ke hari, saya hanya melakukan hal berikutnya, mengambil langkah berikutnya, mengatakan ‘ya’ yang berikutnya. Dan Allah membangun kehidupan saya di Nashville yang tidak dapat saya impikan untuk diri saya sendiri. Mungkin saya tidak pernah merasa berani, tetapi saya mengambil langkah yang berani dalam ketaatan kepada Allah.

Saya tidak pernah merasa berani. Namun dari hari ke hari, saya hanya melakukan hal berikutnya, mengambil langkah berikutnya, mengatakan ‘ya’ yang berikutnya.

Jika Anda dan saya duduk bersama dan Anda menceritakan tentang kisah Anda, saya dapat menunjukkan kepada Anda tempat-tempat di mana Anda telah mengambil pilihan yang berani, bahkan ketika Anda tidak menyebutnya demikian. Mungkin Anda telah melakukan lebih dari yang Anda sadari. Anda lebih berani dari yang Anda tahu.

JADILAH BERANI : Pikirkan kembali tentang hidup Anda. Tulislah dalam jurnal Anda dua atau tiga peristiwa di mana Anda atau orang lain menyebutnya sebagai saat yang “berani”.

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top