Senin, 19 Oktober 2020
Bacaan : Matius 13 : 1-23
Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu. (Amsal 25:2)
Ketika anak-anak saya masih kecil, kami menyembunyikan telur-telur Paskah untuk mereka temukan. Taraf kesulitan dalam pencarian itu selalu ditentukan oleh usia dan kemampuan anak kami. Kami tidak pernah pergi keluar, menggali lubang sedalam satu meter dan mengubur telur cokelat serta berharap anak kami yang berusia 2 tahun untuk menemukannya. Ketika anak-anak kami masih kecil, kami menaruh telur di meja, atau di kursi. Ketika mereka bertambah besar, kami membuatnya lebih sulit, tetapi tidak pernah di tempat yang tidak dapat ditemukan. Orang tua senang melihat sikap anak-anak yang penuh antusias, dan senang melihat mereka bersukacita dalam proses penemuan. Anak-anak menikmati kesenangan mencari dan gembira mendengar peneguhan orang tua yang bersukacita atas pencarian dan penemuan mereka. “Carilah, maka kamu akan menemukan …” (Mat 7:7). Keingintahuan dan sukacita saat menemukan sesuatu dimaksudkan untuk menjadi bagian dari apa yang dimaksud dengan “mencari kerajaan Allah terlebih dahulu” (Mat 6:33) maupun “menerima kerajaan Allah seperti anak kecil” (Luk 18:17).
Orang bertanya-tanya mengapa Allah tidak selalu berbicara dengan cara yang lebih terbuka—bisa didengar, dengan tanda-tanda yang terlihat, dan hal-hal lain semacam itu. Saya tidak tahu bagaimana atau mengapa seperti itu, tetapi Alkitab menunjukkan bahwa Allah menerima lebih banyak kemuliaan ketika Ia menyembunyikan sesuatu, dari pada membuat sesuatu terlihat jelas. Lebih mulia bagiNya untuk menyembunyikan sesuatu, dan menyuruh kita mencari. Melalui perumpamaan tentang benih dan penabur, kita menemukan bahwa Yesus tidak sekedar menggunakan perumpamaan sebagai ilustrasi, melainkan kadang-kadang Ia menyembunyikan sesuatu sehingga hanya orang yang lapar yang akan memahami hal itu (lihat Mat 13:11. 18:23). Allah bermurah hati dengan tidak memberikan pernyataan bagi orang yang tidak haus akan kebenaran, karena jika mereka tidak merindukan hal itu, kemungkinan besar mereka tidak akan menaati hal itu ketika mereka mendengarnya. Penyataan selalu mendatangkan tanggung jawab, dan sikap haus merupakan sesuatu yang mempersiapkan hati kita untuk memikul beban tanggung jawab. Dengan tidak memberikan penyataan kepada orang yang tidak haus, Allah sesungguhnya melindungi mereka dari keengganan memikul tanggung jawab tertentu yang akan dikenakan pada mereka. Jadi ia menyembunyikan sesuatu. Namun Ia tidak menyembunyikan sesuatu dari kita. Ia menyembunyikan sesuatu bagi kita!
Tetapi ada bagian lainnya dari persoalan ini—”kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu.” Kita adalah raja-raja dan imam-imam bagi Allah kita (lihat Why 1:6). Identitas kerajaan kita tidak pernah bersinar lebih terang dari pada ketika kita menyelidiki hal-hal yang tersembunyi dengan penuh keyakinan bahwa kita memiliki akses sah untuk memahami hal-hal itu. Rahasia adalah harta warisan kita. Kerajaan kita, peranan kita dalam berkuasa dan memerintah bersama Kristus, muncul di barisan depan ketika kita mencari Dia untuk mendapatkan jawaban atas dilema dunia di sekitar kita.
Yesus menjawab mereka, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak” (Mat 13:11). Sebagai orang percaya kita memiliki akses legal untuk memahami rahasia Allah. Sesederhana itu. Hal-hal tersembunyi ditempatkan dalam penantian untuk ditemukan orang-orang percaya. Hal itu adalah harta warisan kita.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

