Mengapa Harus Berani?

Selasa, 24 November 2020

Bacaan : 2 Timotius 1 : 6-14

Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman (2 Timotius 1:8-9)

Suatu waktu saya harus pergi ke Honolulu, Hawaii, untuk menjadi pembicara dalam sebuah konferensi. Pada suatu sore saya berjalan-jalan ke Starbucks Kailua untuk menulis sebentar dan ternyata di sana tidak ada meja yang kosong. Saya tidak punya rencana cadangan ke mana saya akan pergi untuk menulis, jadi saya mengantri saja di kasir untuk membeli minuman.

Akhirnya satu meja tersedia di antara sepasang pasutri yang sedang berlibur dan tiga orang peselancar dengan warna kulit terbakar matahari. Para peselancar itu sedang berbicara tentang pernikahan, jadi saya ingin menyingkir dari situ karena tahu, yah mereka semua sudah punya istri.

Saya mulai berkemas, dan karena keterbatasan meja yang tersedia (semua meja sudah ditempati), mau tidak mau saya kembali ke meja saya dan percakapan mereka — dan mendengar mereka berbicara tentang kebenaran mutlak dan bagaimana Allah adalah satu-satunya yang mutlak, dan tiba-tiba saya menyadari bahwa saya sedang memperhatikan dua orang di antara mereka membagikan kesaksian hidup mereka tentang Yesus kepada teman mereka yang ketiga.

Jantung saya mulai berdebar-debar. Percakapan seperti ini membutuhkan keberanian. Membagikan kisah Anda butuh keberanian.

Saya tahu. Mungkin Anda pikir saya terlalu dramatis, tapi coba dengar. Orang yang ketiga itu? Mendengarkan bahwa Yesus adalah jawaban? Hidupnya akan berubah selamanya dan masa depannya akan berbalik arah karena dua orang peselancar itu cukup berani untuk mengatakan hal-hal tentang Yesus yang mereka tahu adalah kebenaran

Melihat orang-orang yang berani membuat saya ingin menjadi berani juga. Ini adalah efek domino.

Saya merasakan sesuatu dalam diri saya ketika mendengarkan mereka—keinginan untuk membagikan cerita saya. Itulah sebabnya terkadang Anda melihat orang dewasa yang rasional mau berseluncur di seluncuran air di kolam renang meskipun mereka sebenarnya tidak ingin—hanya karena mereka ingin menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa itu tidak menakutkan.

Melihat orang-orang yang berani membuat saya ingin menjadi berani juga.

Itulah sebabnya kita harus memulai. Itulah sebabnya kita harus melangkah dulu. Itulah sebabnya kita harus berani—supaya orang lain akan terinspirasi untuk menjadi berani bersama-sama kita.

Kita bisa menjadi berani karena kita memang diciptakan untuk jadi berani.

Memang menakutkan untuk menjadi diri Anda yang seharusnya. Rasanya tidak mudah karena memang tidak. Tetapi kita diciptakan untuk ini. Seperti ayat hari ini mengatakan, kita punya panggilan kudus. Mengapa harus berani? Karena ketika kita cukup berani untuk membagikan kisah hidup kita tentang Tuhan, itu akan mengubah orang-orang di sekeliling kita. Itu juga mengubah kita untuk membagikan kisah mereka.

JADILAH BERANI : Ingatlah kembali hari-hari Anda. Kapankah Anda melihat Allah bekerja bagi Anda? Atau mungkin hanya menunjukkan diriNya dengan cara tertentu bagi Anda? Ceritakanlah itu kepada seseorang.

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top