Sabtu, 11 Juli 2020
Bacaan : Matius 25 : 14-30
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; … (1 Yohanes 4:18)
Ketika anak laki-laki saya Josh berumur 4 atau 5 tahun, suatu hari saya membawanya ke taman, dan ia segera berlari ke tempat favoritnya. “Tolong angkat saya pada monkey bar (tempat bermain yang terdiri atas tiang-tiang besi untuk anak-anak panjat dan bermain),” katanya. Jadi saya mengangkat dia ke atas, dan ia menggapai monkey bar itu, dan saya melepaskan dia. Sepatunya yang kecil tergantung sekitar 1,5 m dari tanah, dan ia sangat bangga. Ia bergantung sendirian dengan senyuman lebar pada wajahnya. Setelah kurang lebih semenit ia menjadi capai dan berkata, “Oke, tolong turunkan aku.”
Saya berkata, “Josh, lepaskan saja peganganmu, dan aku akan menangkapmu.”
Wajahnya tampak cemas dan ia berkata, “Tidak, turunkan aku.” Saya berkata, “Josh, jika kamu melepaskan tanganmu aku akan menangkapmu.”
“Tidak tolong turunkan aku.” Anak kecil itu tetap berpaut dengan segenap kekuatannya. Ia terus berpaut sampai buku jarinya menjadi pucat dan ia tidak dapat berpaut lebih lama. Akhirnya ia melepaskan tangannya dan saya menangkapnya.
Terkadang demikianlah kita berhubungan dengan Tuhan. Kita berpaut habis-habisan dan berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan kekuatan sendiri. Kita terus bergumul, berusaha mengontrol segala sesuatu, berusaha membuat segala sesuatu tepat seperti yang kita inginkan, berusaha menyenangkan orang-orang. Kita berpaut dan berpikir tidak ada orang yang akan menangkap kita sehingga kita terus menggenggam dan berpaut lebih kuat.
Satu-satunya jalan mengambil resiko untuk meraih hal yang besar adalah dengan mempercayai Allah dalam semua bidang hidup Anda. Bergantung pada monkey bar dengan erat-erat bukan hanya melelahkan, melainkan juga menghalangi kita dari mengejar mimpi yang jauh lebih besar dan lebih memuaskan yang disediakan Allah bagi kita. Jika kita berpaut pada tujuan dan metode kita sendiri, kita kehilangan kesempatan yang akan memberkati dan menguatkan kita. Dia ingin kita mempercayaiNya untuk melakukan hal-hal yang luar biasa yang tidak pernah bisa kita capai dengan kemampuan kita sendiri.
Allah tidak menghendaki kita untuk merasa takut kepadaNya secara keliru, yaitu merasakan ketakutan yang menghalangi kesediaan kita untuk mengambil resiko dan bertumbuh. Dalam kisah perumpamaan di Matius 25, hamba ketiga sedemikian takut untuk melepaskan monkey bar yang membuat ia terus bergantung. Ia tidak cukup menghargai dan mengasihi tuannya untuk percaya bahwa bosnya akan menangkap dia jika ia mengambil resiko besar dan rugi.
Begitu sering kita bermain aman, puas dengan status quo dan membenarkan pandangan kita yang konservatif dengan memberi tahu diri kita bahwa itulah yang dikehendaki Allah. Namun ada ruang untuk bertumbuh dalam kehidupan hampir setiap orang. “… Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk 12:48).
Kita kehilangan banyak momen, baik besar maupun kecil, jika kita tidak bersedia keluar dari pola penolakan terkecil dan mencoba hal-hal besar. Namun jika kita tahu hari-hari kita sudah dihitung, dan tiba-tiba prioritas kita diterangi dengan jelas, kita akan jauh lebih mudah mendengar panggilan Allah dan melibatkan diri dengan antusias di dalamnya. Kita tidak perlu khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain atau apa yang akan mereka katakan. Kita tidak perlu khawatir bahwa kita akan gagal atau membuang-buang waktu, karena kita akan menyadari bahwa penyesalan akan jauh melampauinya.
PENERAPAN:
1. Buatlah daftar barang-barang, aset, karunia, dan kesempatan yang dipercayakan ke dalam tanggung jawab Anda saat ini. Di samping setiap hal itu jelaskan bagaimana hal itu sampai kepada Anda (misalnya, Anda miliki sejak lahir, seseorang memberikannya kepada Anda, Anda bekerja untuk mendapatkannya), dan kemudian catatlah seberapa banyak peran Anda sehingga hal itu sampai kepada Anda. Akhirnya, tulislah bagaimana Allah ingin Anda menginvestasikan apa saja yang ada dalam daftar Anda dan bagaimana Anda dapat melakukan investasi ini menurut pendapat Anda.
2. Tulislah 1 resiko yang Anda percaya dikehendaki Allah untuk Anda ambil saat ini dalam hidup Anda. Jelaskan ketakutan Anda untuk mengambil resiko ini. Jelaskan skenario terburuk jika Anda mengambil resiko ini dan gagal? Berdoalah agar Allah menolong Anda menghadapi ketakutan Anda sehingga Anda bisa melakukan apa yang dikehendakiNya.
From “One Month to Live” by Kerry & Chris Shook

