Rabu, 23 September 2020
Bacaan : Yohanes 15 : 9-17
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu. (Yohanes 15:15)
Murid-murid hidup dalam ketakjuban terhadap Pribadi yang memangil mereka untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia. Itu pilihan yang mudah. Ketika Ia berbicara, sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, terjadi di depan mereka. Ada sesuatu dalam suaraNya yang layak untuk dijalani dalam kehidupan—layak untuk mendapat pengorbanan dari hidup seseorang.
Setiap hari besama Yesus dipenuhi dengan hambatan konstan berupa hal-hal yang tidak bisa mereka pahami; entah itu roh-roh setan yang jatuh di kaki Yeus dan menyembahNya, atau pemimpin agama, yang suka memaksa, yang bungkam di hadapanNya; semua itu begitu mempesona. Kehidupan mereka menjadi berarti dan penuh makna sehingga membuat segala sesuatu yang lain mengecewakan. Oh, mereka tentu saja juga memiliki masalah pribadi, tetapi masalah itu telah diketahui Allah dan sekarang tidak ada sesuatu pun yang menyulitkan mereka.
Momentum gaya hidup yang mereka alami sulit untuk kita pahami. Setiap kata, setiap tindakan tampak memiliki makna kekekalan. Bagi mereka melayani istana Sang Raja ini pasti jauh lebih baik dari pada melayani hidup di istana mereka sendiri. Mereka mengalami sendiri apa yang dirasakan Daud ketika ia hidup di hadapan Allah sebagai prioritas utamanya.
Mendekati akhir hidupNya di bumi, Yesus memberikan promosi tertinggi kepada murid-muridNya. Ia memberi tahu ke-12 murid itu bahwa Ia tidak lagi menyebut mereka hamba, tetapi sahabat. Berada dalam satu ruangan yang sama denganNya, atau bahkan mengagumi Dia dari jauh, merupakan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk mereka minta. Namun, Yesus membawa mereka ke dalam hidupNya. Mereka membuktikan diri mereka sendiri pantas untuk mendapatkan promosi terbesar yang pernah dialami manusia—dari hamba menjadi sahabat dekat (Yoh 15:15). Mungkin hanya Ester yang bisa sungguh-sungguh memahami bagaimana rasanya ditinggikan, karena ia, seorang budak perempuan yang dilahirkan sebagai tawanan, dipromosikan menjadi seorang ratu. Dengan promosi itu, perhatian murid-murid sekarang bergeser dari tugas yang ada ke Pribadi Yesus yang ada dalam jangkauan mereka. Mereka diberi akses untuk mengetahui rahasia-rahasia hati Allah.
Ketika Yesus memberikan promosi ini kepada murid-muridNya, Ia melakukan itu dengan menjelaskan perbedaan antara kedua posisi tersebut. Hamba tidak tahu apa yang sedang dilakukan tuannya. Hamba tidak memiliki akses untuk mengalami hubungan pribadi yang intim dengan tuan mereka. Mereka berorientasi pada tugas. Fokus utama mereka adalah ketaatan—dan itu adalah sikap yang benar, karena kehidupan mereka tergantung pada kesuksesan di bidang itu. Namun, sahabat memiliki fokus yang berbeda. Hampir merupakan satu bentuk penghujatan untuk mengatakan bahwa ketaatan bukan merupakan perhatian utama bagi sahabat, namun itu benar. Ketaatan memang selalu penting, seperti ditonjolkan dalam ayat sebelumnya, “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadaMu” (Yoh 15:14). Namun sahabat tidak terlalu memusingkan diri terhadap ketaatan dibanding sikap mengecewakan. Fokus murid-murid bergeser dari perintah kepada hadirat, dari tugas kepada hubungan, dari “apa yang aku lakukan bagiNya” kepada “bagaimana pilihanku mempengaruhi Dia.” Hubungan persahabatan ini memungkinkan terciptanya revolusi yang mampu terus-menerus kita alami.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

