Senin, 28 Februari 2022
Bacaan : Matius 20 : 29-34
Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. (Matius 20:34)
Saya sangat sedih mengakui hal ini, tetapi saya tidak lagi sensitif akan penderitaan orang lain seperti dulu. Bertahun-tahun yang lalu, kalau saya sedang mengganti-ganti saluran TV dan menjumpai iklan dari program yang menampilkan anak yang kekurangan gizi dengan lalat beterbangan sekitar wajahnya, jantung saya seperti berhenti. Saya langsung merasa bersalah duduk di rumah saya yang nyaman, menonton TV berwarna besar layar-datar, sehingga saya sering langsung mengganti salurannya.
Namun setelah beberapa waktu, saya telah melihat gambar ini terlalu sering sehingga gambar-gambar itu tidak lagi mengganggu saya seperti dulu. Saya menjadi imun terhadapnya. Mereka tak terlihat, hanya seperti suara dengungan di latar belakang. Jadi, mengulang-ulang sebuah rangsangan akan menyebabkan efeknya semakin berkurang dan berkurang setiap kali Anda terpapar olehnya. Anak yang miskin dan kelaparan itu tidak lagi membebani saya sekarang seperti dulu karena saya telah menjadi tidak peka terhadap pemandangan seperti itu. Ini sudah biasa dan tidak lagi mengganggu kecuali saya dengan sengaja berhenti sejenak dan mengingat bahwa ia adalah seorang manusia—darah dan daging yang nyata dari seorang anak yang menderita dan membutuhkan.
Mengapa hal ini menjadi masalah? Karena semakin kita acuh tak acuh terhadap penderitaan orang lain, semakin kita tidak mau mengasihi mereka, menolong mereka, melayani mereka. Karena kalau kita sudah dipilih untuk mengikuti Yesus, maka kita perlu memahami bahwa Allah memanggil kita untuk jauh lebih dari sekedar mengganti saluran TV atau menutup laman internet yang muncul.
Belas kasihan sangat berarti.
Ia memanggil kita untuk melayani.
Ia memanggil kita untuk mengasihi.
DOA KEKUATAN
Ya Tuhan, janganlah biarkan aku menjadi tidak peka tetapi berikanlah aku mata untuk melihat serta hati yang lembut untuk dapat merasakan penderitaan orang lain.
From “Daily Power: 365 Days of Fuel for Your Soul” by Craig Groeschel

