Kamis, 19 November 2020
Bacaan : Mazmur 137
Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku! (Mazmur 137:6)
Sepanjang Alkitab Daud dikenal sebagai “seorang yang berkenan kepada Allah.” Kasihnya kepada Allah sepertinya tak tertandingi dalam Alkitab; namun ia juga menggambarkan kasihnya kepada kehidupan yang tak tertandingi. Dalam Mazmur 137:6 ia berkata, “Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!” Dalam komunitas keagamaan saat ini pernyataan tersebut mungkin tidak akan diterima. Bagaimana mungkin Yerusalem, komunitas umat tebusan, disebut puncak sukacitanya? Bukankah Allah seharusnya menjadi puncak sukacitanya? Paradoks yang tampak jelas itu sangat sesuai dalam budaya Yahudi yang mencari ekspresi praktis untuk kebenaran rohani. Kasih Daud kepada Allah membutuhkan ekspresi, dan Yerusalem adalah target yang sempurna.
Jika kita hidup dengan kasih yang tulus kepada Allah, hal itu akan menciptakan kasih kepada hal-hal lain. Meskipun ada kemungkinan kita menghargai hal lain di atas Allah, kita tidak mungkin menghargai Allah tanpa menghargai hal-hal lain. Ini adalah poin utama untuk menentang pola pikir keagamaan, yang menyingkirkan segala sesuatu yang dianggap tidak sakral. Usaha mencapai tujuan mengasihi Allah tanpa mengasihi hal lain telah menciptakan gaya hidup kebiaraan untuk bertahan hidup. Meskipun saya mengagumi banyak orang percaya yang hidup membiara pada masa lalu, hal itu bukanlah model yang diberikan Yesus kepada kita. Cara kita melayani hal-hal lain dalam kehidupan menjadi tes indikasi yang menentukan untuk membuktikan kasih kita yang murni kepada Allah.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

