Kamis, 14 Oktober 2021
Bacaan : Amsal 9: 1-12
Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Lalu Salomo berkata: “… berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, …” (1 Raja-raja 3 : 5-6,9)
Pada permulaan pemerintahan Salomo, Allah menghampiri raja muda ini dengan sebuah penawaran: Mintalah kepadaKu apapun yang kau inginkan. Salomo tidak meminta kekayaan yang besar, penghormatan dari para pemimpin dunia, atau bangsa yang tak terkalahkan, dan ini menyenangkan hati Allah. Salomo meminta hikmat, dan Tuhan menjawabnya dengan berlimpah-limpah.
Alkitab memberitahu kita bahwa Allah memberikan kepada raja “hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut” (1 Raj 4:29), dan bahwa hikmatnya lebih dari pada semua orang (4:31). Pemikiran Salomo berkembang menjelajahi disiplin ilmu botani, ilmu hewan, dan musik, dan merenungkan topik-topik mulai dari hal perekomonian sampai komunikasi sampai tentang cinta. Hikmat Raja Salomo menolong bangsa Israel untuk mencapai kemakmuran yang luar biasa. Salomo sendiri mengumpulkan kekayaan yang sangat besar melebihi raja-raja pada jamannya.
Namun di akhir masa kekuasaannya, raja yang brilian ini rupanya melupakan prinsip utama dari hikmat itu : “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN” (Mazmur 111:10). Hanya hikmat yang dipenuhi kekuatan yang berasal dari hidup berjalan bersama Tuhanlah yang akan menciptakan pemimpin-pemimpin yang saleh.
From “Leadership Promises for Every Day” by John C. Maxwell

