Rabu, 14 Oktober 2020
Bacaan : 1 Korintus 2 : 6-16
Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. (1 Korintus 2:7)
Injil yang bersifat intelektual berisiko ‘menciptakan’ Allah yang tampak sangat mirip dengan kita, Allah yang seukuran dengan kita. Pencarian jawaban mereka kadang-kadang menuntun penolakan akan adanya rahasia. Akibatnya rahasia sering kali diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolerir, bukan sebagai harta yang nyata. Hidup dengan diwarnai rahasia merupakan hak istimewa dalam hubungan kita dengan Kristus. Nilainya tidak dapat terlalu dibesar-besarkan. Jika saya memahami segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kekristenan saya, saya akan memiliki kehidupan Kristen yang kurang bernilai. Perjalanan iman adalah hidup sesuai dengan penyataan yang kita terima, di tengah-tengah rahasia yang tidak dapat kita jelaskan. Itulah sebabnya mengapa kekristenan disebut iman.
Sering kali orang percaya meninggalkan atau mengecilkan panggilan mereka agar merasa lebih nyaman dengan segala sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan. Ketika kita mengijinkan sesuatu yang tidak dapat kita jawab untuk merendahkan apa yang telah Ia nyatakan kepada kita, ini merupakan sikap kedagingan. Banyak orang yang hanya menaati apa yang mereka pahami; jadi mereka menundukkan Allah pada penilaian mereka sendiri. Allah tidak bisa dicobai seperti kita. Jalan salib yang sejati adalah menaati penyataan yang kita terima meskipun sepertinya ada kontradiksi yang tidak dapat kita pahami. Menaati hanya ketika kita melihat ada hasil yang menyenangkan, itu bukanlah ketaatan. Ketaatan itu mahal harganya. Ketika kita mampu menerima apa yang Ia tunjukkan kepada kita dan menaati apa yang Ia perintahkan kepada kita—yang sering kali ada di tengah-tengah pertanyaan yang tak terjawab—ini merupakan kehormatan yang melampaui batas. Merupakan hak istimewa bagi kita untuk menjadi orang percaya yang menaruh kepercayaan di tengah-tengah budaya orang tidak percaya. Kita harus menerima hak istimewa ini. Seharusnya tidak ada orang Kristen yang tidak tergerak oleh pertanyaan Tuhan, “Ketika Aku kembali, apakah Aku akan menemukan iman di bumi?” Marilah kita menetapkan hati untuk berkenan kepadaNya dengan hidup dalam iman.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

