Kamis, 19 Januari 2023
Bacaan : Matius 23 : 16-26
… Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Matius 23:23)
Saya mengenal seorang pria yang dipecat dari pekerjaannya di sebuah SMA Kristen karena seorang majelis gereja melihatnya membeli rokok. Mereka dengan sombong mencekalnya meskipun mereka tahu bahwa dia adalah guru terbaik yang ada di sekolah itu. Yang lebih kejam lagi adalah bagaimana orang-orang Farisi ini menikmati kesenangan memecatnya. Mereka memberi penilaian yang cepat dan keras, rasa percaya diri mereka lebih beracun daripada rokok apapun.
Racun dari teknik mematuhi-aturan ini mengalihkan fokus dari hal-hal yang serius ke masalah-masalah yang konyol, sehingga memungkin orang-orang legalis untuk menjalani apa yang diyakini sebagai “kehidupan yang benar”, padahal sebenarnya ia gagal dalam hal-hal yang menjadi perhatian Tuhan. Sebagai contoh seorang pria yang membenci istrinya, tetapi tidak pernah melakukan perselingkuhan; dia “setia”. Dia bangga dengan moralitas pilih-pilihnya—mengikuti aturan tetapi mengabaikan masalah besar di dalam hatinya. Apakah ini kekudusan?
Kekudusan tidaklah sama dengan moralitas. Anda bisa menjadi orang yang bermoral tapi tidak mengasihi Allah. Anda dapat tetap mematuhi peraturan dan membenci sesama Anda. Yesus tidak mau menghasilkan orang-orang Farisi; Dia sedang berusaha memulihkan kemanusiaan Anda dengan memberikan Anda keindahan kekudusanNya, menjadikan Anda utuh dan kudus oleh kasihNya.
~***~
Tuhan Yesus, aku mau menjadi utuh dan kudus oleh kasihMu. Aku tidak mau hidup yang legalistik—aku mau keindahan kekudusanMu!
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

