Jumat, 10 Maret 2023
Bacaan : 1 Petrus 1 : 3-9
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali …, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, (1 Petrus 1:3)
Tentu saja Anda mengharapkan kebahagiaan yang dapat Anda nikmati sekarang. Tidak ada tempat lain ke mana hati Anda akan pergi. Anda telah membuat kekekalan menjadi sesuatu yang tidak berarti. Kalau saya beritahu Anda bahwa liburan yang Anda nanti-nantikan akan segera tiba, Anda pasti akan bersemangat. Hari esok terlihat sangat menjanjikan. Tampaknya memungkinkan, diinginkan. Namun gagasan tentang surga, meskipun memungkinkan, tidak selalu diinginkan. Hampir setiap orang Kristen yang saya temui menganggap bahwa kekekalan itu seperti ibadah gereja yang tiada akhir, mereka menyimpan gambaran tentang menyanyi-sepanjang-waktu di langit, dalam lagu pujian sambung-menyambung, selama-lamanya, amin.
Selama-lamanya? Itukah “kabar baik”nya? Kemudian Anda menghela nafas dan merasa bersalah karena Anda ternyata tidak terlalu “rohani”. Anda berkecil hati, dan Anda berpaling lagi ke masa kini untuk menemukan kehidupan apa yang Anda miliki sekarang. Kekekalan terasa seperti akhir dari pencarian kehidupan.
Ingatlah, Anda hanya bisa mengharapkan apa yang Anda inginkan. Bagaimana mungkin ibadah gereja yang tiada akhir bisa lebih diinginkan daripada kekayaan pengalaman hidup di sini? Ingatlah, kekekalan telah ditaruh dalam hati Anda (Pengkhotbah 3:11). Di bagian mana dalam hati Anda? Dalam keinginan Anda.
~***~
Sahabatku, bagaimanakah cara Anda menggambarkan kekekalan? Menurut Anda seperti apakah itu? Janji bahwa “musim semi” akan segera tiba, membawa pemulihan segala sesuatu—kalau Anda membiarkan hal ini benar terjadi untuk sesaat, bagaimanakah rasanya di dalam jiwa Anda?
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

