Jumat, 29 Oktober 2021
Bacaan : Efesus 4 : 25-32
Semoga kata-kata dan pikiranku berkenan pada-Mu, ya TUHAN, pelindung dan penebusku! (Mazmur 19:15—BIMK)
Waktu saya berumur sembilan tahun, kakak perempuan saya dua tahun lebih tua dari saya dan delapan tahun lebih modis. Dia mengenakan rok dari kain lilit, pita rambut, dan kutek warna merah muda mengkilat.
Sedangkan saya bertelanjang kaki, memakai celana jeans belel, dan menghabiskan waktu saya naik sepeda, memanjat pohon, atau main kasti.
Di situlah masalah terbesar saya.
Karena kami hanya dua bersaudara, selama musim panas yang panjang ketika saya ingin bermain di luar memukul dan melempar bola, tidak ada orang lain untuk diajak bermain selain Cindy. Dan dia tidak pernah mau berhadapan dengan panas, debu dan serangga di tengah teriknya siang hari di Florida.
Ketika memohon sudah tidak pernah berhasil, saya terpaksa menggiring dia dengan menggunakan senjata pamungkas, (saya mengejeknya dengan pantun) :
“Si gendut, dua tambah delapan, tidak bisa keluar lewat pintu depan…”
Kenyataannya bahwa badan Cindy hanya seperti sebatang lidi tidaklah penting, karena dia berada di usia di mana semua anak perempuan merasa dirinya gendut. Dan saya dengan cepat mempelajari dengan pasti bahwa untuk membuatnya melakukan apa yang saya inginkan adalah menggiringnya ke situ.
Menggiring, pada dasarnya adalah ungkapan untuk tongkat yang diarahkan kepada hewan untuk menghalaunya atau menyuruh berjalan. Memaksa. Menggerakkan. Menuntun binatang besar berbulu dari satu tempat ke tempat lain (canda, Cindy…!)
Menggiring secara verbal (dengan perkataan) dapat mendorong, menggerakkan, menuntun orang dari satu tempat ke tempat lain juga… seperti menggerakkan orang dari tidak percaya menjadi percaya, dari agnostik beralih ke suatu paham tertentu, dari pandangan yang egosentris menjadi sudut pandang yang berpusat pada Kristus.
Mungkin Anda berpikir ke mana arah semua pembicaraan ini? Kita akan bahas lagi besok!
Ya Tuhan yang Benar,
Ampunilah aku karena membujuk dan memanipulasi orang lain untuk mengikuti keinginanku yang egois.
From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

