Rabu, 22 Februari 2023
Bacaan : Daniel 9 : 16-19
… sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. (Daniel 9:18)
Bagaimana cara orang berdoa mengungkapkan bagaimana sebenarnya mereka berpikir tentang Tuhan. Apakah Tuhan terasa dekat, atau doa itu membuatNya serasa jauh? Apakah kedengarannya seolah-oleh Tuhan adalah seseorang yang kita repotkan dengan permintaan kita? Apakah terdengar formal dan relijius, atau akrab seperti, “Selamat pagi, Papa”?
Sahabatku, kita menafsirkan Yesus melalui kehancuran kita. Kebenaran yang menyakitkan, tetapi juga kebenaran yang penuh harapan, karena mungkin itu bisa membukakan pintu-pintu yang tidak Anda ketahui sebelumnya.
Sepanjang yang saya ingat, saya selalu merasa dihantui oleh perasaan “tidak pernah cukup baik”. Tidak terlalu penting apakah hal “itu”—bisa jadi sebuah proyek, atau hubungan persahabatan. Tidak pernah cukup baik. Hal ini dimulai jauh sebelum saya mengenal Yesus. Ketika saya menjadi Kristen dengan kepercayaan tersebut yang sudah terlanjur mengakar dalam diri saya, yang terjadi adalah, hal itu pun berpengaruh dalam hubungan saya dengan Yesus. Rasanya tidak pernah ada yang cukup baik untukNya. Saya masih kurang, saya kurang mengasihiNya, saya kurang… Anda tahu gambarannya seperti apa.
Tetapi sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan pribadi Yesus yang sebenarnya. Apa yang Anda bawa ke hadapan Tuhan itu sudah cukup, dan ketika Anda memutuskan untuk mendekat kepadaNya, Dia akan mempunyai akses ke dalam hati Anda dan tabir itu akan terbuka.
~***~
Tuhan Yesus—tunjukkanlah kepadaku hal-hal yang kusalahpahami tentang Engkau. Tunjukkanlah melalui doa-doaku apa yang kupercayai tentang Engkau.
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

