Kamis, 10 Desember 2020
Bacaan : 1 Yohanes 5 : 10-15
Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. (1 Yohanes 5:14)
Saya mempunyai hubungan yang panjang (dan mungkin rumit) dengan doa. Saya tahu doa itu nyata, saya tahu doa punya kuasa, saya tahu Tuhan mendengarkan kita. Bagaimanapun, itu tidak berarti bahwa saya selalu mendapatkan apa yang saya inginkan. Namun pertama kali saya ingat bahwa Allah benar-benar menjawab salah satu doa saya adalah ketika saya berumur 9 tahun. Di musim semi waktu saya kelas 3 SD, saya membintangi drama musikal Sekolah Minggu di gereja kami. Baiklah, untuk mengatakan bahwa saya adalah “BINTANG” sepertinya agak berlebihan karena, meskipun saya mempercayainya dalam hati, saya yakin bahwa saya hanyalah satu di antara beberapa bintang. Oke, satu di antara para pemain.
Saya berperan sebagai Little Psalty (Psalty adalah tokoh berupa buku nyanyian himne yang mengajarkan tentang Allah kepada anak-anak). Saya masuk ke dalam kostum karton besar berwarna biru yang berbentuk seperti buku himne. Saya berjalan ke tengah-tengah kerumunan, menyanyikan lagu himne lama, “Tuhan Ambil Hidupku.”
Oh, apa saya sudah bilang bahwa karakter yang saya perankan adalah laki-laki? Jadi itu adalah bagian istimewa dari cerita ini.
Ketika saya pulang sekolah pada hari acara musikal itu akan dipentaskan, mama saya sedang berada di kamar, dan semua lampu kamarnya dimatikan, dia sedang sakit migren. Hidup saya penuh kenangan akan migren. Ketika saya masih kecil, kami membawa mama ke rumah sakit atau kami pergi bersama papa supaya mama bisa tenang istirahat di rumah. Hari itu ketika saya melihat ia di tempat tidur, saya segera tahu bahwa keadaannya tidak baik.
Ia berbisik kepada saya dengan suara yang menahan sakit kepala bahwa ia minta maaf, tapi dia tidak akan sanggup menghadiri acara pementasan malam itu.
Yah, hati kecil seorang anak kelas 3 SD merasa hancur. Saya berlari ke atas ke kamar saya, melemparkan tas sekolah saya ke lantai, berlutut di samping tempat tidur saya, melipat tangan, dan berdoa sekeras yang saya tahu pada waktu itu.
Doa adalah kesempatan luar biasa untuk dapat terhubung secara langsung dengan Pribadi terbesar yang pernah dan selalu ada.
Saya tidak ingat setiap kata yang saya ucapkan dalam doa-anak-kecil-yang-sangat-kuat itu, yang saya tahu saya berdoa supaya Allah menyembuhkan sakit kepala mama saya sehingga ia bisa datang di pementasan nanti malam. Saya memohon seperti yang dilakukan anak umur 9 tahun, dengan mata tertutup rapat dan mengulang-ulang kalimat yang sama lagi dan lagi.
Malam itu di gereja, beberapa menit sebelum tirai panggung dibuka, seseorang membisikkan nama saya. Saya sudah berdiri di anak tangga naik ke panggung, siap untuk menyanyi, tiba-tiba mama saya ada di situ, di samping panggung, melambaikan tangan dan mengatakan bahwa ia ada di sini.
Saya tahu. Itu seperti adegan dramatis dalam sebuah film. Dan di situlah saya belajar bahwa doa itu berkuasa.
Sejak saat itu, saya sering mendapatkan doa saya dijawab begitu saja, dalam cara yang saya pikirkan, dan ada juga doa-doa saya yang nampaknya tidak pernah terjawab. Ada pula situasi lain di mana saya berdoa dan hasilnya sangat berbeda dengan apa yang saya pikirkan, dan saya bertanya-tanya apakah Tuhan dan saya berbicara dalam bahasa yang sama.
Saya rasa di situlah saat keberanian bekerja. Apakah Anda cukup berani untuk berdoa dan percaya bahwa Allah mendengarkan Anda dan Ia akan bekerja? Apakah Anda cukup berani untuk percaya dengan segenap hatimu bahwa Allah akan melakukan hal-hal yang ajaib? Apakah Anda cukup berani untuk mengucapkan kata pertama kepadaNya setelah Anda cukup lama tidak berbicara denganNya? Doa itu sebenarnya bukan tentang kita. Doa adalah kesempatan luar biasa untuk dapat terhubung secara langsung dengan Pribadi terbesar yang pernah dan selalu ada. Dan dibutuhkan keberanian untuk mengetahui hal itu dari diri Anda sendiri.
Jadi berdoalah. Allah itu nyata. Dan Ia mendengarkan.
JADILAH BERANI : Berdoalah hari ini, entah itu dengan sepotong kalimat yang terbata-bata atau beberapa paragraf tertulis dalam jurnal Anda. Berbicaralah kepada Allah. Ia mendengarkan Anda.
From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

