Jumat, 3 Juni 2022
Bacaan : Efesus 6 : 10-20
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7)
Jika semua pembahasan tentang berjuang dan berperang dan menjadi prajurit ini mengganggu Anda, maka saya akan katakan begini: keutamaan kekuatan ditentukan dari bagaimana kekuatan itu dipergunakan. Kalau dipakai untuk mengasihi dan melindungi, itu baik. Sayangnya, kekuatan juga bisa dipakai untuk menyakiti, dan itu tidak sejalan dengan karakter Allah yang dicerminkan dalam Alkitab. Ia memanggil kita untuk berjuang demi kebenaran.
Prajurit hanya sepadan dengan tujuan mereka.
Seseorang tanpa tujuan dari Tuhan seringkali hanya orang yang marah tanpa tahu ke mana mengarahkan energi dan agresinya yang terpendam. Prajurit dengan tujuan dari Allah mengarahkan energi berperang itu untuk suatu tujuan yang lebih besar.
Sebelum ada sesuatu yang membuat Anda rela mati, maka Anda belum sepenuhnya hidup.
Anda diciptakan untuk berjuang demi kebenaran.
Sebelum Anda memasuki tujuan tersebut, Anda akan merasa bosan, hancur, dan frustasi. Temukanlah sesuatu yang lebih. Saya bersyukur kepada Tuhan yang membuat saya hidup dalam tujuan ilahi. Sejujurnya saya percaya bahwa saya berada di garis depan suatu peperangan yang paling penting: antara surga dan neraka. Kerajaan Allah melawan kerajaan kegelapan. Pedang saya telah teracung, dan saya rela mati untuk memimpin orang-orang menjadi pengikut Kristus yang mengabdi sepenuhnya kepadaNya. Ini bukan apa yang saya kerjakan, ini adalah siapa diri saya. Ini dimulai dari keluarga saya, kemudian mengalir ke segala sesuatu yang saya kerjakan, di mana pun saya berada.
Hal apakah yang Anda perjuangkan?
saya berada.
Hal apakah yang Anda perjuangkan?
DOA KEKUATAN
Ya Tuhan, aku tidak selalu menganggap diriku adalah seorang prajurit, tetapi dengan kuasaMu aku mau terjun dalam peperangan—bagiMu, bagi kerajaanMu, dan bagi umatMu.
From “Daily Power: 365 Days of Fuel for Your Soul” by Craig Groeschel

