Sabtu, 8 Desember 2022
Bacaan : Mazmur 37 : 21-26
Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. (Amsal 16:9)
Tidak peduli berapapun usia kita, kebijaksanaan sering kali tergantung pada keseimbangan antara keputusan yang baik dan keputusan yang meluncur menuju kekacauan. Dalam pengalaman saya, ini seringkali benar. Atau setidaknya pernah saya alami dulu ketika kaki saya cedera setelah bermain futsal. Setelah peristiwa itu, saya hampir tidak dapat berjalan. Waktu saya pergi ke dokter, ia memberi saya sepatu bot yang besar, berat dan jelek yang harus saya pakai untuk beberapa waktu sampai kaki saya sembuh.
Saya berusaha menjadi pasien yang baik, sampai suatu hari saya teringat bahwa lampu-lampu natal masih terpasang di atap rumah kami. Dan karena saya ingin menjadi orang yang tidak membiarkan lampu natalnya menyala sepanjang tahun, saya memutuskan untuk menurunkannya—saat itu juga. Ya, saya sadar itu kedengarannya nekat, tapi pada saat itu buat saya semuanya masuk akal.
Seperti halnya keputusan-keputusan kita yang rasanya masuk akal, sampai suatu saat, ketika kita menghadapi konsekuensinya, dan kita menyadari betapa kita begitu ceroboh, konyol, dan semaunya sendiri. Untungnya, setelah memanjat tangga, saya mendengarkan suara akal sehat—disampaikan melalui anak perempuan saya—lalu saya turun. Saya benar-benar harus melangkah mundur, dan melihat gambaran besar serta kemungkinan konsekuensi yang akan terjadi untuk dapat memiliki pikiran yang jernih.
Hari ini, pikirkanlah pilihan-pilihan yang Anda buat berikut segala konsekuensinya. Apakah Anda mengijinkan Allah menetapkan langkah-langkah Anda? Ataukah Anda berusaha memanjat tangga dengan kaki yang cedera?
DOA KEKUATAN
Ya Bapa, terkadang aku mengambil keputusan dengan terburu-buru yang akhirnya kusesali. Hari ini aku tidak akan tergesa-gesa, aku mau melihat kembali, dan membiarkan Engkau menunjukkan langkah yang harus kuambil berikutnya.
From “Daily Power: 365 Days of Fuel for Your Soul” by Craig Groeschel

