Senin, 1 November 2021
Bacaan : Mazmur 149
Biarlah orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, … (Mazmur 149:5)
“Oh when the saints…go marchin’ in. Oh when the saints go marchin’ in. Oh Lord I want to be in that number…when the saints go marchin’ in.” (Saat para kudus…berbaris masuk. Saat para kudus berbaris masuk. Oh Tuhan aku mau berada di sana…saat para kudus berbaris masuk.)
Ini adalah lirik lagu When The Saints Go Marching In, lagu gospel kuno yang sudah dinyanyikan sejak awal tahun 1900-an.
Kalau Anda pernah tahu lagu ini, mungkin seperti saya, Anda telah menyanyikan lagu ini sekian banyak kali tanpa benar-benar memikirkan artinya, bukan?
Jadi hari ini, di Hari Raya Semua Orang Kudus, mari merenungkan sedikit tentang makna lagu ini.
- Jadi siapakah sebenarnya orang kudus/orang saleh itu?
- Dalam lagu tersebut, ke manakah pada orang kudus berbaris masuk?
- Mengapakah saya ingin berada di sana?
Jawaban untuk pertanyaan yang pertama agak kontroversial. Gereja Katolik Roma telah memiliki tradisi perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus ini (seperti saya sebutkan kemarin) selama berabad-abad. Pada tanggal 1 November, mereka memperingati orang-orang kudus yang telah mencapai “keindahan surga”, gelar Santo dan Santa diberikan untuk orang-orang tersebut (seperti Santo Agustinus dan Santo Fransiskus Asisi, saya kira Bunda Teresa juga sedang dalam proses menerima gelar Santa).
Orang Kristen Protestan menganggap pada pengikut Kristus adalah orang-orang kudus (orang saleh) dan menghormati orang-orang percaya di masa lalu dan masa kini dalam Hari Raya Semua Orang Kudus. Jadi menurut lagu ini, orang-orang kudus itu berbaris masuk ke surga, di mana Anda dan saya sudah pasti ingin berada dalam barisan tersebut ketika saatnya tiba nanti.
Maksud saya, mengapa tidak kita merayakan keselamatan kita di suatu hari yang dikhususkan? Saya bisa membayangkan Bapa tersenyum lebar dan mengetuk-ngetuk kakiNya dan mengangguk-angguk seiring musik jazz dari penampilan band New Orleans mengiringi anak-anakNya yang terkasih berbaris memasuki rumah yang kekal
Hei, saya dengan senang hati mengambil semua alasan untuk bersukacita. Apakah Anda juga demikian?
Ya Pemimpin yang Agung,
Aku merayakan keselamatanku hari ini. Sungguh aku sangat bersyukur bahwa Engkau menjanjikan rumah yang kekal di surga.
From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

