Jumat, 12 November 2021
Bacaan : Yakobus 3 : 13-18
Terang bersinar dalam kegelapan bagi orang jujur, bagi orang yang adil, pengasih dan penyayang. (Mazmur 112:4—BIMK)
Dorsey, seorang pemuda berusia dua puluhan, selalu menjadi orang pertama yang tiba di dapur gereja dan orang terakhir yang pulang saat semuanya sudah bersih dan rapi mengkilat. Karunianya adalah melayani, dan ia dengan penuh sukacita memberikan waktu, tenaga serta pengalaman profesionalnya untuk menyediakan makanan yang lezat kepada keluarga gereja selama bertahun-tahun.
Suatu hari yang kelam, sebuah kabar yang mengejutkan tersiar bahwa Dorsey telah terdiagnosa positif mengidap virus HIV. Para pemimpin gereja dengan tegas menyarankan Dorsey untuk tidak lagi masuk ke dapur gereja. Tidak ada diskusi mengenai siapa yang akan menggantikan tugasnya, tidak ada layanan konseling yang ditawarkan, tidak… tidak sama sekali.
Lama kelamaan Dorsey menghilang dari peredaran seiring semakin berkurangnya telepon maupun kunjungan dari teman-teman gereja. Keluarga saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk mendoakan Dorsey dan tetap menjalin hubungan dengan Dorsey dan orang tuanya saat mereka berjuang ketika penyakit AIDS-nya bertambah parah.
Saya ingat dengan jelas suatu malam ketika saya dan Chuck baru pulang dari acara makan malam pertunangan, dan tiba-tiba saya merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengunjungi Dorsey. Bukan besok … tapi saat itu juga. Ia terbaring lemah di tempat tidur di rumah orang tuanya dan tak sanggup berbicara, tetapi pandangan matanya menjawab saat kami memegang tangannya.
Hati saya hancur saat duduk di sampingnya, mengusap rambut di keningnya, mengingat masa-masa tak terhitung di mana ia telah melayani saya dengan tanpa pamrih. Sekarang saatnya saya melayani dia. Saya menyanyikan lagu pujian kesukaannya dan membisikkan betapa Bapa sangat mengasihi dia.
Ia mengangguk.
Tiga jam kemudian Dorsey berpulang.
Saya butuh waktu yang cukup lama untuk pulih dari kesedihan itu. Tapi dari air mata saya yang mengalir saat ini, sepertinya saya masih belum pulih.
Namun satu hal ini yang saya tahu: Belas kasihan adalah selalu merupakan hal yang benar. Selalu.
Ya Tuhan yang menghapuskan air mata,
Mampukanlah aku melihat mereka yang sedang melalui masa-masa kekelaman dengan mata belas kasihMu.
From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

