Jumat, 11 Agustus 2023
Bacaan : Kejadian 1:1—2 :3
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (Kejadian 1:1)
Apakah Allah memiliki hati yang baik? Ketika kita memikirkan Allah sebagai Penulis, Tokoh di Balik Segalanya, kita cenderung meragukan hatiNya. Ketika Anda membaca novel atau menonton sebuah film, terjebak dalam aksinya, apakah Anda bahkan memikirkan penulisnya? Anda mengidentifikasikan karakter-karakter yang ada karena mereka ada di dalam kisah itu. Pergumulan mereka telah memenangkan simpati Anda karena itu adalah pergumulan Anda juga. Anda menyukai tokoh pahlawan karena dia adalah salah satu dari kita, yang telah bangkit sedemikian di tengah kekacauan untuk menjadi lebih baik dan lebih bijak dan lebih mengasihi sebagaimana Anda harap suatu hari Anda akan seperti itu juga.
Sang Penulis, bagaimanapun, ada di luarnya. Kemahatahuan dan kemahakuasaanNya mungkin yang telah menciptakan drama itu, tetapi itu juga yang memisahkan kita dariNya. Kuasa dan pengetahuan tidak sama dengan hati. Memang, jenis penjahat yang terburuk adalah orang yang melaksanakan rencana dengan presisi yang dingin dan penuh perhitungan. Ia terlepas, tidak punya hati. Jika kita menggambarkan Allah sebagai Dalang di balik Kisah—yang menentukan adegan sementara kita, seperti Ayub, menjalani kesengsaraan—tak heran kita akan merasa bahwa Allah seperti sedang melakukan eksperimen, meskipun Dia mempunyai maksud baik.
Tetapi bagaimana bila kita melihat Allah bukan sebagai Penulis, Dalang kosmik di balik semua pengalaman manusia, namun sebagai karakter inti di dalam Kisah yang Lebih Besar itu? Lalu apa yang dapat kita pelajari dari hatiNya?
~***~
Apakah yang benar-benar Anda percayai mengenai hati Allah?
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

