Tuhanlah Pembebasmu

Sabtu, 4 Maret 2023

Bacaan : 2 Korintus 1 : 7-11

… Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. … kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, (2 Korintus 1:9-10)

Saya sedang memikirkan tentang nama Yesus. Bahwa nama itu artinya “Tuhan menyelamatkan,” atau “Tuhanlah Pembebasmu, Tuhanlah Keselamatanmu.”

Ini membuat saya berpikir tentang Tuhan sebagai Pembebas, dan sebaliknya, katakanlah, ide yang lebih senang menganggap Tuhan sebagai Pencegah. Ini membuat saya menyadari betapa saya lebih menginginkan Tuhan menjadi Pencegah bagi saya daripada menjadi Pembebas, yang artinya, saya ingin Dia mencegah hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan saya. Mencegah berarti hal “itu” tidak akan pernah terjadi kepada saya. Membebaskan berarti saya berada dalam kesulitan besar dan Tuhan harus menyelamatkan saya. Saya pikir kita semua lebih menyukai gagasan Tuhan sebagai Pencegah supaya kita bisa memiliki hidup yang bahagia.

Tetapi Tuhan lebih sering ditampilkan sebagai Pembebas di dalam Alkitab. Bacalah kitab Mazmur yang penuh dengan hal yang luar biasa. “Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku” (3:8). “Lepaskanlah aku dari pedang” (22:21). “Ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong” (72:12). Dan pikirkanlah tentang sejarah umat Allah; dari satu pembebasan ke pembebasan lainnya. Kehidupan Paulus pun mengalaminya, sehingga ia berkata, “KepadaNya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi,” (2Kor 1:10).

Bukan mencegah. Tetapi membebaskan. Ini adalah sudut pandang yang sangat berbeda  akan kehidupan bersama Tuhan. 

~***~

Bagaimanakah cara Anda memahami Allah selama ini—sebagai Pencegah, atau sebagai Pembebas?

From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top