Kamis, 9 Februari 2023
Bacaan : Kolose 2 : 13-15
Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu. (Yesaya 43:25)
Akan tiba waktunya Anda harus memaafkan orang-orang yang telah menyakiti Anda. Paulus memperingatkan kita bahwa sikap tidak mengampuni dan kepahitan dapat menghancurkan hidup kita dan hidup orang lain: “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (Ibrani 12:15). Sebagaimana ada yang mengatakan, pengampunan itu membebaskan tahanan dan kemudian menyadari bahwa tahanan itu sebenarnya adalah Anda sendiri. Ketika seorang teman saya membagikan pengalamannya setelah memaafkan ayahnya, ia berkata, “Saya mulai memikirkan dia bukan sebagai seseorang yang telah memisahkan saya dari kasih atau perhatian atau persahabatan, melainkan sebagai seseorang yang juga telah menderita karena dipisahkan oleh orang tuanya dan oleh budaya.”
Sekarang Anda harus memahami: pengampunan adalah sebuah pilihan. Ini bukan perasaan, melainkan tindakan karena kehendak. Ini akan terjadi ketika Anda mengijinkan Tuhan mengangkat rasa sakit dari masa lalu Anda. Mengenali rasa sakit tersebut, itulah yang penting, dan memilih untuk memberikan pengampunan. Sahabatku, mengampuni bukan berarti mengatakan, “Masalah itu tidak terlalu penting.” Pengampunan berkata, “Itu salah, itu penting, dan aku membebaskanmu.” Dan kemudian meminta Allah untuk menjadi Bapa Anda, mengasihi Anda sebagaimana Ia menciptakan Anda untuk mengenal kasih. Kasih yang keluar dari hati yang telah dibebaskan.
~***~
Saya tahu—ini adalah hal yang berat untuk dihadapi. Tetapi mungkin ada seseorang dalam hidup Anda saat ini yang memerlukan pengampunan Anda. Mulai saja dari situ.
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

