Sabtu, 26 Februari 2022
Bacaan : 1 Korintus 13 : 4-10
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. (1 Korintus 13:4-5)
Media sosial mendorong kita—benar-benar melatih kita—untuk menjadi lebih narsis dan penuh dengan diri sendiri. Sebuah studi belakangan ini mengindikasikan bahwa 80% dari apa yang diunggah seseorang di media sosial berhubungan langsung dengan pengguna tersebut. Masuk akal. Lagi pula, pikirkanlah hal apa yang pertama kali Anda cek saat Anda daring. Apa yang orang katakan tentang Anda. Apakah orang “menyukai” unggahan Anda? Apakah orang memberi komentar pada hal-hal yang saya unggah? Apa yang bisa saya lakukan untuk menarik lebih banyak afirmasi positif yang saya nikmati ini?
Mengapa kita melakukan hal ini? Ini emosional, tentu saja, tetapi juga ilmiah. Setiap kali kita melihat sesuatu tentang diri kita sendiri—terutama kalau itu positif—otak kita melepaskan dosis kecil zat kimia yang disebut dopamin. Zat ini memberikan kita sedikit dorongan (yang sepenuhnya legal), sedikit momen “A-ha! Aku suka ini!”
Jadi ketika kita berpartisipasi di media sosial, baik mengunggah sesuatu atau sekedar berselancar, ini mengkondisikan kita—seperti tikus laboratorium yang mengetuk tombol makanan—untuk menjadi lebih dan lebih berpusat-pada-diri-sendiri dari waktu ke waktu. Media sosial membuat kita tidak terlalu peduli dengan orang lain dengan mengubah tubuh kita menjadi lebih berpusat-pada-diri-sendiri.
Bagaimanapun, Allah mengingatkan kita bahwa kasih sejati itu tidak mementingkan diri sendiri. KasihNya tidak membutuhkan dorongan pujian-diri, entah lewat daring ataupun secara langsung. Esensi kasih ialah apa yang Yesus lakukan bagi kita di kayu salib. Kasih seperti ini dapat memotivasi segala sesuatu yang Anda lakukan—jika Anda tetap mengarahkan pandangan kepada Kristus dan bukan pada beranda media sosial Anda.
DOA KEKUATAN
Tuhan Yesus, hari-hariku terlalu banyak dipenuhi hal-hal seputar diriku dan apa yang kubutuhkan dan kuinginkan. Hari ini biarlah aku melihat melampaui gambaran daringku dan berfokus kepada orang lain dengan kasihMu yang tanpa pamrih.
From “Daily Power: 365 Days of Fuel for Your Soul” by Craig Groeschel

