Dari Kehampaan Menuju Sesuatu

Sabtu, 30 Oktober 2021

Bacaan : Pengkhotbah 12 : 9-14

Perkataan orang arif itu seperti tongkat tajam seorang gembala, tongkat yang dipakainya untuk melindungi dombanya. … (Pengkhotbah 12:11BIMK)

Konsep tongkat untuk menggiring ini memenuhi pikiran saya selama minggu setelah kematian seorang sahabat Kristen saya. Beban di dalam roh saya bukanlah tentang teman saya itu—meskipun saya sangat kehilangan dia, tetapi saya yakin dia sedang menari-nari dengan sukacita di surga.

Tidak, ini adalah tentang kakak laki-lakinya, seorang terpelajar yang memandang Kekristenan dengan sebelah mata. Ia menghabiskan malam terakhir dalam hidup adik perempuannya di muka bumi dengan mencela saya, membicarakan “kelemahan yang kentara” serta “kontradiksi” dalam Alkitab sementara adiknya terbaring tak berdaya, menelan semua perkataannya itu.

Sahabat saya telah beberapa kali menceritakan kepada saya tentang kerinduannya untuk membawa terang Tuhan Yesus menyingkirkan kegelapan dalam hidup kakaknya. Bagaimanapun, Yang Kuasa sedang bekerja dalam mengubah pola pikir seseorang.

Saya sangat bisa merasakan beban yang dirasakan oleh sahabat saya itu, dan bertanya kepada diri saya sendiri: Apakah perkataan saya menggiring orang kepada Yesus? Apakah saya secara aktif berusaha menggerakkan orang dari satu level rohani ke level yang lain? Apakah saya seorang penggiring yang baik?

Penulis Jill Briscoe pernah mengatakan, “Apakah perkataan kita … menghujam hati nurani mereka? Menggerakkan mereka dari yang tak berarti menuju sesuatu yang berarti? Dari kehampaan kepada sesuatu? Dari omong-kosong kepada kesadaran-akan-Tuhan?”

Maka saya berdoa kepada Bapa untuk memberikan saya kata-kata hikmat sebagai tongkat penggiring untuk pria ini. Bukan kata-kata yang menarik secara intelektual, melainkan kata-kata yang penuh sukacita-ilahi yang akan menembus pertahanan intelektualnya dan menyiapkan jalan bagi Roh Kudus untuk masuk ke dalam kegelapan hatinya dengan cahaya kebenaran.

Tidak berbeda dengan apa yang dialami oleh seorang intelek bernama Saulus dalam perjalanannya ke Damsyik.

Ya Sang Penyelamat Jiwa,

Taruhlah beban dalam hatiku untuk jiwa-jiwa yang membutuhkan untuk digerakkan dari omong-kosong kepada kesadaran-akan-Tuhan.

From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top