Rabu, 20 Oktober 2021
Bacaan : 1 Yohanes 4 : 7-21
… kamu harus saling mengasihi. (Yohanes 13:34)
Saya memarkir mobil di depan garasi lalu menyeret tubuh saya melalui pintu setelah menyetir maraton selama sembilan jam dengan bekal-cemilan-kue-untuk-menahan-kantuk. Saya lelah sekali.
Saya hanya ingin melemparkan barang-barang bawaan saya di lantai dan melemparkan tubuh saya ke atas tempat tidur.
Lalu saya melihat sesuatu.
Di atas meja dapur, ditumpuk setinggi kotak sereal, komik-komik yang dengan susah payah dikumpulkan dari setiap koran selama dua-puluh-lima hari kepergian saya. Itu komik yang banyak sekali.
Dibutuhkan waktu satu jam untuk membaca semua komik itu, dan saya melakukannya. Mengapa? Karena saya mendengar, menyentuh, dan jatuh cinta kepada setiap kata di dalamnya.
Pasangan saya tahu bahwa bahasa kasih saya adalah “Pelayanan”, yang berarti untuk berbicara kasih kepada saya supaya saya mendengarnya adalah dengan melakukan tindakan melayani yang sederhana untuk saya. Ia mengerti hal-hal lucu adalah satu-satunya alasan saya berlangganan koran. Ia juga mengerti tak peduli seberapa banyak pun ia mengucapkan kata-kata “aku kangen kamu” sementara saya sedang pergi, saya hanya akan benar-benar merasakannya dengan tindakan sederhana yang dia tunjukkan melalui hal-hal kecil yang sepertinya tidak penting, tapi penting bagi saya.
Karena saya penting. Bagi dia.
Dan dia memang benar.
Sungguh suami yang luar biasa.
Menurut Dr. Gary Chapman dalam 5 Bahasa Kasih, setiap kita tidak berbicara kasih dengan cara yang sama. Ketika Anda berpikir Anda sedang mengungkapkan kasih kepada seseorang, mereka mungkin tidak mendengar pesan yang Anda maksudkan tersebut karena mereka tidak-berbicara-dengan-bahasa-itu.
Bahasa kasih Anda mungkin adalah Kata-kata Pujian, Waktu yang berkualitas, Hadiah, Pelayanan, atau Sentuhan Fisik, tetapi itu belum tentu sama dengan bahasa kasih orang lain atau pasangan Anda. Untuk dapat mengkomunikasikan kasih, kita harus bisa fasih dengan bahasa si penerima.
Ya Raja Damai,
Tolonglah aku untuk mengenali dan menjadi fasih dalam bahasa kasih sehingga tidak ada lagi salah terjemahan di dalam komunikasiku.
From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

